“Dalam diri anak Adam ada segumpal daging, jika ia baik, baiklah seluruhnya dan jika ia jahat, jahatlah seluruh anggotanya, ketahuilah ia adalah hati” (Riwayat : Bukhari dan Muslim).
Hati itu sumber segala
sesuatu, kebaikannya akan membawa kebaikan dari segala yang dilakukannya,
keburukannya member keburukan juga kepada apa yang dilakukan.
Ia adalah tempat yang
akan dinilai oleh Allah SWT dibalik amal-amal kebaikan atau keburukan seseorang
hamba.
Allah SWT mencintai
hati yang bersih, hati yang senantiasa merendah diri, hati yang ikhlas, hati
yang gemetar, hati yang penuh cinta, hati yang senantiasa mengharapkan
keampunan dan pengharapan.
Penilaian manusia
terletak pada apa yang dilakukannya, tetapi penilaian Allah SWT apa yang
tersembunyi dalam hatinya.
Ada manusia yang
melakukan amal begitu hebat disisi manusia, kemana ia pergi, nama dan amalnya
atau kejayaannya yang senantiasa menjadi sebutan, tetapi disisi Allah SWT, ia
tiada nilai malah lebih hina dari seekor anjing karena tiada keikhlasan.
Ada manusia yang
amalnya sedikit atau kecil, dan tiada menusia yang memandangnya tetapi disisi
Allah SWT nilainya sangat tinggi disebabkan keikhlasannya.
Di akhirat nanti,
seluruh manusia akan berhadapan dengan Allah SWT, baik ia ulama para syahid,
para hafiz, para ahli ibadah, para ahli dermawan dan sebagainya untuk diperiksa
hati mereka.
Amat jahil dan butalah
seseorang itu jika ia menganggap persoalan hati adalah kecil sedangkan di
akhirat nanti ia adalah perkara yang utama menjadi penilaian Allah SWT.
Imam Nawawi dalam
menyusun hadits 40 telah meletakkan hadits yang berkaitan dengan niat sebagai
hadits yang utama. Syirik atau menduakan Allah SWT dalam amal adalah
melambangkan tiada adab ia dengan Allah SWT, melambangkan tiada bersih hatinya.
Mereka yang tiada ilmu dalam perjalanan nafsunya amat mudah tertipu.
Beribadah tetapi
menyebabkan jauh dari Allah apabila ibadahnya dimasuki penyakit ‘ujub, takabbur
atau riak. Diberi kekayaan dan menyangka ia adalah nikmat padahal ia adalah istidraj
untuk memusnahkan dirinya apabila harta tadi melalaikan ia dengan Allah SWT.
Banyaknya ibadah dan
amal bukannya menjadi nilai lagi disisi Allah,
namun inti pokok keikhlasan adalah menjadi ukuranNya.
Redaktur : Zainul Hakim
Inspirasi : Mutiara Amaly (MA)

Posting Komentar