BREAKING NEWS
pasang
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Bersyukurlah Karena Banyak Di Gosipin !


DiGosipin? anda pasti tau apa yang disebutkan dengan digosipin tersebut. Tiap-tiap orang telah mengetahui kata ini juga dari ia sejak menginjak bangku SD.

Segala suatu hal yang ada dalam kata di gosipin konotasinya adalah sungguh tak mengenakkan sekali. Umumnya dari kata tersebut berisi mengenai perihal pendapat serta beberapa perihal yang tidak di sukai oleh objek gosipan. isu-isu yang sarat dengan kamuflase serta biasanya dapat menyebabkan  dampak kerugian oleh objek gosip tersebut.

Perbuatan menggosipi ini telah merata ke tiap-tiap kelompok dan keberbagai jenis kelamin. Dimana-mana baik ia sadar atau mungkin tak sadar pastinya sempat turut terlibat dalam aksi gosip-menggosip. Dengan cepat serta sigap nada lantunan gosip pun mulai menyebar kemana-mana serta tambah melabar kemana-mana.

Begitu hebatnya gosip tersebut, seluruhnya jadi kreatif olehnya, bumbu-bumbu yang semula sedikit jadi meluas untuk di masak supaya nikmat untuk di konsumsi berbarengan. Indah sekali jadi untuk yang memakannya serta menyakitkan sekali bagi objeknya.

“wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian banyak prasangka itu dosa. Dan jangalah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengunjing (menggosipkan) sebagian yang lain. apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu akan merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima taubat, maha penyayang.” (QS. AL-HUJURAT:12)
 
Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi yang merasa dirinya orang beriman serta mukmin sejati. Mengapa demikian, karna ia tahu rahasia tersembunyi dari tiap-tiap situasi yang menerpanya.

Sebut sajalah ia tengah jadi objek obrolan gosip, panas sekali hatinya mendengar dirinya tengah asik di perbincangkan dalam taraf yang buruk-buruk. Tetapi jika ia memanglah orang yang beriman serta mempunyai kecakapan pengetahuan yang luas perihal pengetahuan agama, maka ia tak lagi terganggu sedikitpun oleh suara-suara yang menggosipinya serta menfitnahnya itu.

Beberapa orang yang digosipin tentunya bersyukur serta jadi tambah bahagia dirinya. Apa sebabnya? Karena ia tau hakikat dari situasi perihal digosipin itu. Marilah kita bahas satu persatu dari demikian banyak rahasia kebaikan dari situasi tersebut, ada 10 kebaikan padanya, yakni antara lain seperti berikut :

1) bagi anda yang digosipin akan memperoleh perhatian lebih dari mulanya, karna beberapa orang jadi repot mencermati anda, hingga andapun jadi lebih mencermati sikap anda itu.

2) Pada intinya orang yang tengah ramai di bicarakan dengan Gosip atau perbincangan hangat yang tidak bertanggung jawab tersebut, tandanya ia tengah ada diatas (derajatnya), dengan kata lain mereka yang mengosipin mengerti dalam hatinya perihal keunggulan anda yg tidak mereka miliki.

3) Anda jadi mempunyai penasehat gratis yang sukai mengoreksi kekurangan anda di mata masyarakat, supaya anda bisa selekasnya memperbaikinya serta beralih jadi lebih cermat serta hati-hati. Tanpa anda harus menyewa mahal consultant karakter maupun psikiater pribadi.

4) Yang semula anda tak tau kekurangan anda, karna mempunyai penasehat gratis itu (gosip) maka anda jadi mengerti serta pada akhirnya bisa menjadi pelajaran baru untuk mensiasati pribadi anda jadi tambah baik dari semula, karna tiap-tiap kita pasti ada kekurangan.

5) Dalam suatu hadist, di katakan bahwasanya mereka yang bergunjing/ membuat gosip, hakikatnya tengah mengambil dosa-dosa anda, makin banyak mereka membuat gosip perihal anda, makin banyak juga dosa anda diambil oleh mereka.

6) Sebaliknya, orang yang tengah di gosipin hakikatnya tengah terima pasokan pahala dari mereka yang tengah berbondong-bondong dengan asyik menggosipkan anda, dengan kata lain pahala mereka bergeser ke orang yang di gosipin tersebut.

7) Tabiatnya beberapa orang yang suka membuat gosip akan saling menggosip lagi di belakang masing-masing, hingga tampaklah untuk mereka keburukan mereka masing-masing, dan pada akhirnya saling tidak mempercayai lagi satu sama lain dan otomatis satu persatu bubar, tanpa anda harus berusaha keras untuk balik menyerang mereka.

8) Bila anda bisa menunjukkan bahwasanya gosipan mereka salah, maka saat itu juga mereka bakal takjub pada anda serta malah sama-sama berusaha membela satu sama lain, serta tampaklah untuk mereka masing-masing bahwasanya mereka sama-sama tidak mempunyai pendirian yang baik. Sekali lagi tanpa anda harus berusaha keras untuk balik menggosipkan mereka.

9) Bila mereka tak bisa anda perbaiki, diam merupakan sikap cerdas dalam hadapi terpaan gosip para mulut syaitan tersebut, supaya sistem transfer pahala serta perpindahan dosa berjalan dengan berhasil.

10) Senyum terima kasih pada mereka tiap-tiap bersuara lantan dengan gosip mereka, karna mereka sudah berikan pahala mereka dengan cepat pada anda. Lagipula tidak ada kelirunya senantiasa tebar senyum untuk makin menaikkan saldo pahala anda, karna senyum hakekatnya merupakan sedekah.

11) Bahagia, karna slama ini anda kurang gagasan dalam beramal, tetapi bisa tumpukan pahala dari mana-mana disebabkan oleh Gosip yang juga anda tidak memahaminya dan tidak juga kenal dengannya (yang membuat gosip), sampai terhapus sedikit demi sedikit dari catatan dosa-dosa anda.


Wahai saudaraku.. Bukankah semua itu baik? Bukankah semua yang tampak menyakitkan dan merugikan ternyata malah baik akibatnya. Tentunya jika sikap anda tetap baik dan santun dalam fase menjadi objek suatu gosip. Namun jika anda balik membalas dan mengajak berkelahi, maka itu semakin memperburuk keadaan anda di mata mereka dan bukan pahala yang di dapatkan anda, melainkan menambah kesalahan baru.

Untuk itulah anda di tuntut agar tetap tenang dan bersahaja jika sedang menghadapi terpaan gosip yang sangat tidak mengenakkan tersenut, bersabar sedikit demi kebaikan yang banyak. Diam bukanlah tanda kelemahan wahai saudaraku, mengalah bukanlah tanda penakut wahai saudaraku, namun karna berilmu maka anda mengambil sikap yang bijak itu.

Tentunya sikap baik akan menuai hasil yang baik pula, dan tentunya sikap pasif tersebut di pilih semata-mata karna mengharap pahala dan ridha dari Allah SWT. Bukankah anda tidak sengaja merencanakan agar mereka ramai-ramai bikin Gosip tentang anda sedemikian rupa, agar pahala amalan mereka pindah kepada anda?

Jadi, jangan sedih jika anda sedang menghadapi sebuah terpaan gosip. Justru berbahagialah karna ada orang-orang yang suka mengambil deretan dosa-dosa anda, dan menggantinya dengan pahala-pahala mereka. Bahkan kalau anda mampu, sediakanlah bagi mereka kado ucapan terima kasih karna telah bersedia mengambil dosa-dosa anda.

Untuk itulah anda semestinya tersenyum dan bahagia jika sedang menjadi objek gosip yang sama sekali tidak mengenakkan.  Tidak perlu marah, tidak perlu naik darah. Cukup kelola hati anda agar tetap selalu dingin, dan selalu tersenyum untuk mengikis pandangan sinis orang-orang yang berbuat gosip terhadap anda.

Wahai saudaraku, semestinya kita bersyukur banyak dan semestinya kita bahagia jika ada orang mendzolimi kita dengan berbagai macam gosip belaka. Karna dengan begitulah jalan pintas untuk kita dapat menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kita, sehingga tanpa sadar kita berjalan menuju hari tua sudah dalam keadaan berkurangnya jumlah dosa, apalagi sampai terkikis habis dosanya. Bukankah itu keberuntungan bagi anda? 

Insya’Allah….

Wallahu’alam bi shawab !


Oleh : Echiey Hisaan, Pekanbaru
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com


Akan Datang Seseorang Lelaki Penghuni Syurga ?

MutiaraPublic - Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik r.a. menceritakan suatu peristiwa yang dialaminya pada suatu majelis ketika bersama Rusulullah SAW.

Anas bercerita, “Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian beliau bersabda : “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni syurga.”

Tiba-tiba muncullah lelaki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhlunya. Dia mengikat ke-2 sandalnya pada tangan di samping kiri. Keesokan harinya, Rasulullah SAW. berkata seperti itu  juga,

“Akan datang seseorang lelaki penghuni syurga. ”
Serta munculah lelaki yang sama. Begitulah Nabi mengulang hingga tiga kali.

Saat majelis Rasulullah usai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. coba ikuti seseorang lelaki yang dimaksud oleh Nabi sebagai salah satu penghuni syurga itu. Lalu beliau berkata kepadanya :

“Saya ini bertengkar dengan bapak saya, serta saya berjanji pada bapak saya bahwasanya sepanjang tiga hari saya tak lagi menemuinya. Maukah anda berikan tempat pondokan buat saya sepanjang hari-hari itu? ” kata Abdullah bin Amr bin Al-Ash pada orang tadi.

Abdullah pun mengikuti orang itu ke tempat tinggalnya, dan beristirahatlah Abdullah dirumah orang itu sepanjang tiga malam. Selama itu Abdullah ingin melihat dan menyaksikan kira-kira ibadah apa gerangan yang telah dilakukan oleh orang yang disebut oleh Rasulullah SAW. sebagai penghuni surga itu. Namun sepanjang itu juga dia tidaklah melihat suatu hal yang istimewa didalam ibadahnya.

Abdullah pun berkata, “Setelah melalui tiga hari saya tak lihat amalannya hingga saya hampir-hampir menyepelekan amalannya, lalu saya berkata padanya : “Hai hamba Allah, sesungguhnya saya tak bertengkar dengan ayahku, serta tak juga saya menjauhinya. Namun saya mendengar Rasulullah SAW. berkata perihal dirimu hingga tiga kali,
“Akan datang seseorang darimu untuk penghuni surga. ”

Saya mau mencermati amalanmu agar saya bisa menirunya. Semoga dengan amal yang sama saya meraih kedudukanmu juga. ”
“Yang saya amalkan tak lebih dari pada apa yang engkau saksikan. ” Ucap orang tersebut.

Saat saya ingin berpaling, ucap Abdullah, dia memanggil lagi, lalu berkata, 
 
“Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku juga tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.”
 
Lalu Abdullah bin Amr berkata,

“Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan buruk dari golongan Muslim, serta bersihnya hatimu dari perasaan dengki. hal inilah tampaknya yang mengakibatkan engkau hingga ke tempat yang terpuji itu (Syurga). Perihal inilah justru yang tidak sempat dapat kami kerjakan. ”

Berikan hati yang bersih, tak menaruh prasangka yang buruk pada golongan Muslim nampaknya perbuatan tersebut kelihatan simpel saja, namun justru malah amalan tersebut yang kerapkali susah kita kerjakan. 
 
Barangkali kita dapat berdiri pada malam hari, sujud serta rukuk dihadapan Allah SWT., walau demikian sangatlah susah untuk kita menyingkirkan kedengkian pada sesama golongan Muslim, cuma lantaran kita pahamnya tidak sama dengan kita, cuma karena perbedaan pendapat dengan kita, cuma lantaran kita pikir bahwasanya dia datang dari kelompok yang tidak sama dengan kita. Atau mungkin cuma lantaran dia beroleh keunggulan yang didapatkan Allah, serta keunggulan itu tak juga kita miliki.

Wahai saudaraku, “Inilah malah yg tidak dapat kita kerjakan. ” kata Abdullah bin Amr. (Hayat Al-Shahabah, II, 520-521)

 
Wallahu’alam bish shawab…!


Oleh : Ustd. Ahmad Hasan
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com

Selasa, 29 April 2014

Kisah Inspiratif : Terpaksa Awalnya, Terpikat Akhirnya !

Kisah Inspiratif : Terpaksa Awalnya, Terpikat Akhirnya !
MutiaraPublic - Untuk sahabtku muslim, kita ketahui bahwasanya pahala sholat yang terbesar yaitu saat sholat dilakukan di awal waktu serta dengan cara berjamaah, bagi golongan lelaki diprioritaskan berjamaah di masjid maupun mushola. Namun dengan beragam argumen, peluang emas ini kerapkali ditinggalkan, juga kadang-kadang dengan penuh kesadaran. Aktivitas kerja, rasa malas atau mungkin juga malu pada lingkungan, jadi argumen kenapa sholat dilakukan sendiri tanpa berjamaah, dirumah maupun ditempat kerja. Hal inilah sebagai bahan perbincangan kami diwaktu itu, sepuluh menit sebelum waktu istirahat berakhir. 

“Awalnya, saya sholat di mushola juga lantaran terpaksa, ” sebut saja Ahmad (nama samaran). 

“Lho, tidakkah dalam melaksanakan ibadah kita tak bisa terpaksa? Mesti ikhlas, lantaran serta cuma mengharap ridho Allah semata? ” protes salah satu temanku yang duduk di seberang meja. 

“Betul! Nilai suatu beribadah memanglah ditetapkan oleh kemauan serta keikhlasannya. Serta terpaksa terang bukan hanya suatu keikhlasan. Maksud saya, saya kembali rajin sholat berjamaah di mushola, itu lantaran awalannya saya paksakan. Yang saya paksakan yaitu melangkahkan kaki ke musholanya, bila sholatnya insya Allah saya ikhlas, ” Ahmad membetulkan pengucapan rekanan kerjaku, sekalian menuturkan terpaksa yang ia maksudkan. 

“Bersikap ikhlas nyatanya tak senantiasa gampang, serta untuk mengawalinya kadang-kadang mesti dipaksakan, ” Ahmad menambahkan. 

Singkatnya, Ahmad juga menceritakan bagaimana hatinya saat ini ‘terpikat’ dengan mushola. 

“Yang saya perlu saat satu hingga dua minggu untuk betul-betul melangkahkan kaki menuju mushola dengan mudah, tiada sedikitpun rasa terpaksa. Seluruhnya berawal saat pulang kerja, saya berpapasan dengan seseorang remaja yang baru pulang dari sholat Ashar di mushola. Bajunya yang rapi, gerak geriknya yang santun, tampak tidak sama dari rekan-teman seusianya. Namun malah itulah yang menarik perhatian saya. ”   ungkap Ahmad

“Saat itu saya lihat banyak remaja seusianya menggunakan waktu hanya dengan sekedar duduk enjoy di tepi jalan, namun sedikitpun ia tidak terasa canggung. Dia juga tidak tampak angkuh mengambil langkah di depan rekan-temannya. Melihat hal demikian itu, saya merasa malu. Umur saya jauh diatas dia, namun masalah kesalihan saya jauh di bawah dia. ”  ungkap Ahmad

“Dulu, satu tahun lebih yang lalu saya sempat aktif jadi jamaah mushola. Namun sesudah bekerja, dengan argumen repot serta lelah setelah bekerja, perlahan-lahan saya mulai meninggalkan rutinitas sholat berjamaah di mushola. Ketika saya lihat pemuda itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk kembali aktif sholat berjamaah di mushola. ”  ungkap Ahmad

“Hari itu juga? ” tanya rekanan kerjaku yang lain. Saya sendiri diam, menanti Ahmad meneruskan ceritanya. 

“Ya! Namun nyatanya tidak semudah yang saya pikirkan. Hari itu, saya berazam untuk kembali ke mushola yang telah demikian lama saya tinggalkan. Namun, waktu adzan maghrib bergema, nampak rasa malas serta segan yang nyaris saja menggagalkan sholat berjamaah pertama saya di mushola. Entahlah, tiba-tiba saya terasa berat melangkahkan kaki. Ada rasa malu pada tetangga kanan serta kiri. Setan memanglah tidak sempat ikhlas membiarkan manusia melalui jalan yang Allah ridhoi. ”  ungkap Ahmad

“Tapi pada akhirnya njenengan terus sholat di mushola kan? ” ungkap saya sambil menebak. 

“Alhamdulillah! Walaupun berat, walaupun canggung, saya paksakan untuk terus sholat berjamaah di mushola. ” 

“Itu kali pertama njenengan kembali aktif di mushola, bagaimana sambutan jamaah disana? ” tanyaku lagi. 

“Subhanallah! Saya seperti temukan keluarga baru, atau mungkin seperti saudara yang telah demikian lama terpisah, lalu menyatu kembali. Sebagian jamaah telah saya kenal cukup lama. Mereka telah ada saat saya tetap aktif dahulu, serta mereka tetap bertahan sampai saya kembali serta juga hingga saat ini. Alhamdulillah, semoga saya serta mereka terus istiqomah. ” 

“Aamiiiiin...., ” jawab kami serempak. 

*** 

Dari kisah diatas, Apa yang Ahmad berikan, menurutku ada benarnya juga. Bahwasanya ikhlas itu mutlak supaya beribadah yang kita lakukan jadi bernilai, sesudah kemauan yang lurus sebelum saat mengawalinya. Tetapi ikhlas itu tak senantiasa datang dengan serta dan merta, butuh diusahakan atau mungkin seperti arti yang Ahmad gunakan, butuh dipaksakan memang awalannya, supaya jadi mudah serta punya kebiasaan pada akhirnya. 

Ahmad telah menunjukkan, cuma perlu waktu satu sampai dua minggu untuk membiasakan diri, kerjakan sholat berjamaah di mushola. Bila saja ia tidak memaksakan diri awal mulanya, mungkin kesadaran bakal keutamaan sholat berjamaah di masjid atau mungkin mushola untuk golongan lelaki cuma berhenti pada kesadaran semata, tiada sempat diwujudkan dengan aksi riil. 

Sahabtku.. Paksakan diri, paksakan hati apabila ikhlas tidak juga ada. Janganlah turuti bisikan setan yang selalu berupaya untuk menghalang-halangi kita dari jalan Allah. Saya yakin tidak bakal lama, walau awalannya terpaksa, bila kita mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh serta mengikuti dengan doa yang tidak ada putus, maka seluruhnya yang awalannya terpaksa bakal jadi suatu rutinitas, lalu menjelma jadi keperluan. Ahmad, merupakan satu diantara rekanku yang sudah membuktikannya. Bila anda alami hal yang sama, mungkin telah waktunya coba panduan ini. 

Semoga, walau awal mulanya jadi berat, bersamaan dengan berjalannya waktu, dimana saat Allah turunkan hidayah Nya sampai pada akhirnya hati betul-betul terpikat. Insya Allah, Amin Ya Rabbal 'Alamin !


Oleh : Hamba Allah.
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com


Senin, 28 April 2014

Inilah Tangan Yang Tak Akan Disentuh Oleh Api Neraka

"ilustrasi" - Inilah Tangan Yang Tak Akan Disentuh Oleh Api Neraka
MutiaraPublic - Diriwayatkan, pada waktu itu Rasulullah SAW. baru tiba dari perang Tabuk. Banyak teman dekat beserta Rasulullah SAW. yang turut dalam peperangan ini. Tak ada yang tertinggal terkecuali beberapa orang yang berhalangan serta ada uzur.

Waktu mendekati kota Madinah, disalah satu pojok jalan, Rasulullah bertemu dengan seseorang tukang batu. Saat itu Rasulullah lihat tangan buruh tukang batu itu melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari yang sangat panas.

Rasulullah ajukan pertanyaan kepada tukang batu, “Kenapa tanganmu kasar sekali? ”

Si tukang batupun menjawab, “Ya Rasulullah, setiap hari pekerjaan saya ini membelah batu, serta belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu akhirnya saya pakai untuk berikan nafkah keluarga saya, oleh karena itu tangan saya kasar begini. ”

Rasulullah SAW. pun menggenggam tangan itu, serta menciumnya seraya bersabda, “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yg tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘. ”

Subhanallah Walhamdulillah Walailaha Illallahu Allahu Akbar !


Redaktur : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com

Selimuti Tangki Cinta Serta Segenggam Kesabaran Buat Ibu

Selimuti Tangki Cinta Serta Segenggam Kesabaran Buat Ibu  
MutiaraPublic - Rasulullah SAW bersabda pada Asyaj Abul Qais, “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang disenangi Allah, yakni KESABARAN serta KETABAHAN” (HR. Imam Muslim).

Jadi ibu yaitu amanah yang luar biasa…tak gampang untuk mengeja tiap-tiap peran yang perlu dijalani.. Madrasatul aulad… ibu merupakan madrasah pertama untuk anak-anaknya, menjadi seseorang ibu memanglah memerlukan beberapa hal yang butuh dipelajari. Terlebih untuk beberapa ibu baru yang tetap terbata mengeja tiap-tiap peran barunya itu. 

Terasa belumlah cukup tempaan untuk seseorang calon ibu waktu janin itu ada. Kepayahan yang dirasakan sepanjang memiliki kandungan. Situasi lemah serta jadi tambah lemah ditambah dengan perjuangan hebat saat melahirkan, nyatanya tetap selalu berlanjut sesudah sang buah hati itu lahir. Bersamaan dengan tumbuh kembang sang buah hati, ibu juga dihadapkan dengan beragam hal baru dalam kehidupannya. Kadang-kadang ia mesti merasakan kerewelan-kerewelan, pembangkangan, hasrat-keinginan dan lain sebagainya. Walau sebenarnya mungkin saja seluruhnya itu ada di waktu yang sama juga dengan rasa capek yang benar-benar lelah ketika ia sudah bergelut dengan beragam aktivitasnya. 

Bersabarlah!! 

Kata itu yang lalu jadi satu diantara jalan keluar konkret untuk melakukan semuanya. Sabar bukan hanya bermakna pasrah demikian saja tidak ada ikhtiar maksimal yang dikerjakan. Sabar seperti dua segi mata duit dimana suatu sikap menahan diri di satu segi serta sikap aktif di segi yang lain. Umpamanya saat hadapi sikap anak yang sulit ditata atau mungkin diarahkan, sikap pasrah serta membiarkan anak ikuti kata hasratnya pasti bukan hanya terhitung pada sikap sabar. 

Walau demikian, menghadapinya dengan tenang, bijak, menahan diri tidak untuk geram yang meledak-ledak sembari mencari jalan keluar yang efisien serta positif Dengan pendekatan, kelembutan, komunikasi yang efisien, hingga pada akhirnya persoalanpun tersebut teratasi dengan pengertian sikap sabar yang ditujukan. 

Dengan kesabaranlah ibu tak lagi gampang berkata dengan suara tinggi, terlebih diikuti oleh tindakan-tindakan yang negatif seperti mencubit, menjambak, memukul dan sebagainya yang pasti mengakibatkan kerusakan mental serta tumbuh kembang anak, baik dengan cara fisik ataupun psikis. 

Kesabaran ini bakal nampak bila seseorang ibu mempunyai kebeningan hati, serta tangki cinta yang sangat penuh didalam diri ibu. Kebeningan hati dapat dimiliki melalui cara selalu penuhi hak ruhiyah (rohani) seseorang ibu. Terdapat banyak hal yang bisa dilakukan untuk berikan suplai daya pada ruhiyah seseorang ibu, salah satunya yaitu seperti berikut :

1. Menghidupkan malam dengan qiyamul lail. 

2. Menjalin persahabatan dengan Al-Quran 

3. Berpuasa 

4. Berbarengan beberapa orang shalih 

5. Menghadiri majelis-majelis ilmu 

Sedang bicara dengan tangki cinta sang ibu ini bakal berkaitan dengan beberapa orang yang ada di seputar sang ibu. Seseorang suami butuh selalu belajar untuk berikan kenyamanan serta ketenangan hati istrinya yang saat ini jadi seseorang ibu dengan semua pekerjaan serta perannya. Sampaikanlah cinta dengan bahasa yang dipahami istri hingga tangki cinta itu terisi serta tak bocor. 

Berikanlah perhatian serta pengertian yang bakal menuangkan aliran cinta pada tangki cinta ibu. Begitu juga dengan support serta daya positif dari beberapa orang yang ada di seputar ibu : keluarga, teman dekat, rekanan kerja bakal menolong ibu tugas-tugas keibuan. 

Berikanlah dukungan-dukungan yang bikin tangki cinta itu penuh seperti saat berkwalitas, berikan hadiah atau mungkin suatu tepukan di pundak maka bakal penuhlah tangki cintanya. Bila tangki cinta itu penuh maka ibu bakal lebih bisa bersabar, lebih tenang serta, jadi makin produktif dalam mendidik putra-putrinya. 

Insya Allah..!


Redaktur : Halind 
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com 


Minggu, 27 April 2014

Bagaimana Mendidik dan Memperlakukan Anak Perempuan ?

(ilustrasi) Bagaimana Mendidik dan Memperlakukan Anak Perempuan 
Oleh : Hj Siti Mahmudah 

Tak hanya untuk amanah yang bakal dipertanggung jawabkan, anak adalah karunia serta hibah dari Allah SWT untuk penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua, serta sekalian untuk perhiasan dunia, dan belahan jiwa (QS al-Kahfi 18 : 46). 

Karenanya, perlakukan anak dengan penuh cinta serta kasih sayang, lebih-lebih untuk anak wanita. Berkenaan anak wanita, dengan cara spesial Rasulullah SAW melarang memperlakukannya dengan kasar. 

Dari Uqbah bin Amir berkata Rasulullah SAW sempat bersabda, “Janganlah kalian memperlakukan anak-anak wanita dengan kasar, lantaran sebenarnya mereka yaitu manusia yang berpembawaan lembut lagi sensitif perasaannya. ” (HR Ahmad). 

Hadis diatas membimbing kita, beberapa orang tua, untuk mendidik anak-anak wanita dengan baik serta bijak, dan tak memperlakukannya dengan kasar. Karena, perlakuan kasar bisa menyebabkan rasa sakit hati serta dendam yg tidak gampang hilang dari ingatannya. 

Bagaimana bila anak wanita itu lakukan perbuatan yang menyebalkan? Orang tua sebaiknya bisa meluruskannya dengan baik serta bijak. Lantaran perlakuan kasar itu tak bisa merampungkan persoalan. Alih-alih meluruskan kekeliruan anak, orang tua jadi dijauhi. 

Oleh karenanya, hindari aksi menuduh, berburuk kira, serta bermuka masam pada anak wanita. Perlakukan anak wanita dengan kelembutan serta kasih sayang. 

Serta, sungguh mujur orang tua yang dikaruniai anak wanita serta ia bisa memperlakukannya dengan baik, bijak, serta penuh kesabaran. Maka, baginya balasan kemuliaan, yakni surga. Subhanallah. 

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memiliki tiga anak wanita, lalu berlaku sabar pada keluh-kesah, suka-duka, serta jerih-payah mengasuh (mendidik) mereka, pasti Allah bakal memasukkannya ke dalam surga karena kasih sayangnya pada mereka. ” 

Dalam hadis yang lain, “Barang siapa memiliki tiga orang anak wanita atau mungkin tiga saudara wanita, dua orang anak wanita atau mungkin dua saudara wanita, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik serta bertakwa pada Allah dalam mengasuh mereka, maka baginya surga. ” (HR Tirmidzi). 

Hadis yang lain, “Barang siapa memikul tiga anak wanita, lalu mendidiknya, menikahkannya, serta memperlakukannya dengan baik, maka baginya surga. ” (HR Abu Dawud). 

Semoga Allah mengaruniai kita, beberapa orang tua, penambahan kesabaran serta ketakwaan dalam mendidik anak-anak, terlebih anak wanita dengan penuh cinta, kasih sayang, serta tanggung jawab. 

Amiin.. Ya Rabbal'alamin ! 


Redaksi : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiara.blogspot.com

Sabtu, 26 April 2014

Kisah Sejarah : Antara Abu Thalib dan Abu Sufyan

(ilustrasi) Kisah Sejarah : Antara Abu Thalib dan Abu Sufyan
MutiaraPublic - Ketika kita membicarakan sesosok paman Rasulullah "Abu Thalib", maka kita akan seakan terbawa pada masa lampau, masa kegelapan kota Makkah. Dimana pada masa itu Islam menjadi musuh bersama bagi mayoritas penduduknya. Dikala masa itu teror terus-menerus dilancarkan untuk tujuan mencegah para aktivis dakwah. Mengenangnya membuat kita teringat akan nilai-nilai kebaikan, ketika kita mengingat sebuah semangat kepedulian yang teramat besar dari paman sang Rasulullah.

Kita tentu masih ingat tatkala beliau (Abu Thalib) menyerukan kepada seluruh kaum Bani Hasyim untuk mengikat sumpah di depan Ka’bah. Dengan saling menggenggam kain rumah suci itu, kaum Bani Hasyim bersumpah untuk membela Rasulullah sampai titik darah penghabisan. Abu Thalib-lah yang menggagas ide tersebut dan beliaulah yang menjadi pemimpinnya. Hal itu mereka lakukan karena baginda Rasulullah tengah menghadapi makar yang teramat besar dari para orang Quraisy.

Maka memang sungguh terjadi bahwa tahun kematiannya dikenang sebagai tahun Kesedihan, dan baginda Rasulullah serta para kaum muslimin berduka cita di masa-masa itu. Bagaimana tidak? Sedangkan Abu Thalib adalah tokoh Quraisy yang berada di barisan paling depan sebagai pembela baginda Rasulullah yang sangat mulia. Nyawa tak lagi ia pedulikan, dengan catatan keponakannya (Rasulullah SAW.) dapat melaksanakan seruannya (perintah Allah SWT.) Dan harta bukan menjadi suatu persoalan belaka, selama kaum muslimin hidup tenteram di bawah perlindungannya.

Tapi apa yang kita rasakan ketika, pada waktu yang sama, kita mengenang Abu Sufyan dan segala sepak terjangnya terhadap Agama Islam? Kita akan merasa muak, jijik dan segudang kebencian akibat perbuatan para antek syaitan kaum kafir Quraisy tersebut. Jika ada ayat-ayat Makiyah dan sebagian ayat-ayat Madaniyah menceritakan tentang syaitan-syaitan orang kafir, yang kebenciannya terhadap Agama Islam lebih besar melebihi semua rasa benci yang ada pada hati ini, maka di dalamnyalah Sesosok Abu Sufyan menjadi tokoh yang paling berperan dalam persoalan-persoalan tersebut.

Bahkan, padamasa di waktu Perang Uhud yang sangat menyakitkan bagi para kaum muslimin, adalah perang miliknya. Dialah (Abu Sufyan) yang pertama kali memiliki ide untuk menyerang balik para kaum muslimin. Ia datangi kawan-kawannya satu persatu, kemudian pada waktu itu ia hasut dan ia seru/ berkata pada mereka untuk membalaskan kekalahan mereka di Lembah Badar. Dia pulalah penyumbang dana terbesar untuk menjalankan perang tersebut, dan kemudian bersemangat untuk menjadi tokoh terdepan dengan tujuan menghancur lebur-leburkan para kaum muslimin.

Hidayah Allah SWT.
Tapi sesosok manusia adalah makhluk yang memiliki sifat lemah dan tak berdaya. Manusia juga tak memiliki kuasa sedikitpun di hadapan sang Ilahi (Allah yang Maha Agung). Jika Allah SWT. berkehendak, maka itulah yang pasti terjadi. Tak ada yang mengira bahwa sesosok Abu Thalib pada akhirnya sebagai calon penghuni neraka. Dan tak ada yang pernah menduga juga bahwa sesosok Abu Sufyan (yang dikala itu membenci para kaum muslim) pada akhirnya akan masuk ke surga Allah SWT. !

Berkenaan dengan Abu Thalib, maka kita menemukan catatan penting tentang akhir hidup sang pria bijaksana tersebut. Dengan segala fakta tentang kedekatannya dengan Rasulullah, dan seluruh hujjah tentang kebenaran Islam yang nampak nyata di hadapan matanya, ternyata tak menggerakkan hati Abu Thalib untuk menerima hidayah Allah. Hatinya tetap keras dan keangkuhannya telah menutup matanya dari kebenaran.

Apa yang kurang dari bukti kebenaran Islam yang dibawa oleh  baginda Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.)? Dan apa yang kurang dari akhlaqul karimah yang dipancarkan oleh baginda Rasulullah? Abu Thalib tetap bersikukuh dan keras kepala. Ia merasa malu meninggalkan aqidah kekufurannya hanya karena takut kehormatannya akan jatuh. Dan atas seluruh sikapnya itu, iapun berakhir dengan su`ul khatimah—berakhir dengan kematian yang buruk (mati sebagai seorang kafir).

Namun  beda lagi dengan Abu Sufyan, yang sebagian besar umur kehidupannya terus bergelimang dengan kekufuran, kesombongan terhadap islam ! Namun pada akhirnya merasa tunduk, patuh dan tak berdaya di hadapan kuasa Allah. Kesombongannya hancur dan hatinya luluh oleh hidayah Allah. Kebenaran Islam datang padanya dengan cara yang sangat Unik serta tidak terduga. Dan, sebelum ajal menjemputnya, ia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim.

Memang, keislaman Abu Sufyan tidak akan mungkin bisa disandingkan dengan Abu Bakar dan Umar, bahkan dengan para kaum Anshar sekalipun. Tapi Allah SWT. adalah Maha Pengampun dan Bijaksana. Allah SWT. mengampuni semua dosa selama ajal/ kematian belum menjemput seorang hamba. Dan Rasulullah sendiri yang menjadi saksi bahwa Abu Sufyan menjadi seorang muslim sejati.

Maka, Abu Sofyan yang dahulunya merupakan tokoh besar yang pernah menjadi syaitan Quraisy itupun wafat dalam pelukan Selimut/ Hidayah Islam. Dan baginya adalah surga. Insya Allah. !

Wahai saudaraku  orang-orang yang beriman...
Marilah belajar dari masa lalu. Kebaikanmu saja tidak cukup tanpa konsistensi dalam keimanan. Takdir sungguh tidak dapat diduga dan nampak, sementara hati manusia teramat sangat lemah. Jangan sampai ada di antara kita yang terjerumus ke dalam jurang api neraka, hanya karena akhir yang buruk dalam kekufuran kita… Na’udzubillah min dzalik, summa Na'udzubillah min dzalik.…

Cukuplah surat Al-‘Ashr menjadi nasihat bagi diri kita, bahwa syarat keberuntungan itu ada 4 (empat), yang kesemuanya itu harus berjalan beriringan, yaitu:
  • Keimanan kepada Allah,
  • Ibadah dan amal shalih,
  • Berdakwah menyerukan kebenaran, dan
  • Sabar serta istiqamah dalam seluruhnya.

Karena, jika tidak demikian, sungguh ia adalah termasuk orang yang merugi…

Wallahua'lam bi Sawab!

Oleh : Abu Qawwam
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi: mutiarapublic.blogspot.com

Kamis, 17 April 2014

Wahai Saudaraku, Tahukah Anda Ketika Ajal Menjelang ?

Wahai Saudaraku, Tahukah Anda Ketika Ajal Menjelang ?
Wahai Saudaraku, pernahkan kita berhenti sejenak, dan bertanya pada diri kita sendiri, apa yang terjadi pada kita di malam pertama ketika kita meninggal ?

Wahai Saudaraku, apa yang telah kita persiapkan untuk kematian, sesuatu yang pasti datang kepada kita ? Apakah kita akan berada di tempat yang baik ataukah di tempat yang malah buruk dan sangat buruk? Seberapa sering kita mengingat mati? Pikirkanlah sejenak, saat dimana tubuh kita dimandikan dan akan segera dikuburkan !

Wahai Saudaraku, pernahkah dalam pikiran kita memikirkan saat dimana orang-orang membawa tubuh kita ke pekuburan (tempat kubur)? Dan ketika semua keluarga kita menangis !

Wahai Saudaraku, pernahkah kita memikirkan saat tubuh kita ini diletakkan di dalam liang lahat ? Sungguh begitu gelap dan semuanya gelap, dan hanya tanah dan tanah belaka yang menjadi lapisan kita !

Wahai Saudaraku, kita menyadari kita sendirian di dalam kubur. Tak ada orang lain, tak ada teman dan bahkan keluarga kita dan semuanya begitu sempit, terhimpit dengan tanah sehingga tulang-tulang belulang kita bahkan saling berdesakkan dengan sendirinya !

Wahai Saudaraku, mungkin di saat itu kita tengah menyesali semuanya masa-masa di dunia. Kita mungkin baru menyesali akhlak kita terhadap orang tua dan orang disekitar kita, kita menyesali mengapa kita tidak mengenakan hijab kepada orang tua kita. Tak ada uang buat orang tua kita. Tak ada perhiasan yang kita berikan untuk menghiasi orang tua. Yang ada hanya semua perbuatan-perbuatan buruk kita.,

Dan ketika kita ditutup bersama tanah-tanah hampa, mungkin kita ingin berteriak dan menyeru semua orang agar jangan pergi dari kuburan kita, menemani walau diri tak lagi kuasa. Tapi apa daya teriakan kita tak bisa terdengar oleh mereka. Kita mendengar langkah kaki mereka seakan menjauhi dan terus menjauh dari kita. Dan kemudian, di situlah kita berada, rumah masa depan yang hening tanpa gemerlap dunia, rumah kita yang pasti akan kita tempati untuk selamanya !

Renungkanlah Saudaraku....!


Sumber Inspirasi : Mbah Google
Editor : Zainul Hakim
Dipulikasi : mutiarapublic.blogspot.com

Sabtu, 12 April 2014

Ketika Jatah Usia Kita Telah Berakhir !?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Tidak terasa, waktu terus berlalu dan terus berlalu (dan tidak mungkin berhenti/kita hentikan). Padahal, jatah umur kita untuk hidup di dunia ini telah ditetapkan oleh Allah SWT. sebagaimana keterangan dalam surat Faathir berikut ini: 
”Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”. (QS. Faathir. 11).

Hal itu menunjukkan bahwa pada saat yang sama, tidak terasa pula jatah umur kita juga akan terus berkurang dan terus berkurang (dan tidak mungkin berhenti/kita hentikan). Yah..., cepat atau lambat, ketika waktu telah berakhir, maka tibalah saatnya untuk berpisah dengan kehidupan dunia ini beserta semua yang ada di dalamnya. 
“Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan”. (QS. As Sajdah. 11).

Saudaraku…,
Begitu saat-saat menjelang ajal tiba, maka kita harus berjuang sendirian menghadapi sakaratul maut yang demikian mengerikan. Orang-orang yang selama ini kita cintai (orang tua kita, istri / suami kita, anak-anak kita, saudara / kerabat kita, dll), ternyata sudah tidak mampu lagi menolong kita. Mereka semuanya akan membiarkan kita sendirian menghadapi sakaratul maut yang demikian mengerikan.

Pada saat-saat kritis seperti ini, kita akan menyadari, bahwa orang-orang yang kita cintai, ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka semuanya benar-benar tidak dapat membantu kita untuk lari menghindari sakaratul maut. 
”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (QS. Qaaf. 19). 
Karena pada saat-saat kritis seperti ini, mereka hanya mampu mendo’akan kita, tidak lebih dari itu. Apalagi harta / kekayaan kita maupun kedudukan / jabatan kita.

Sekali lagi, pada saat-saat kritis seperti ini, ternyata kita benar-benar harus berjuang sendirian menghadapi sakaratul maut yang demikian mengerikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 
“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR. Tirmidzi). 
“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR. Bukhari).

Saudaraku…,
Dan pada saat-saat kritis seperti ini, barulah kita akan menyadari bahwa ternyata hanya amal kebajikan kita-lah yang bisa menolong diri kita.
"Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung”. (QS. Al Qashash. 67).
(Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". (QS. Al Haaqqah. 24).
"Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”, (QS. Al Israa’. 9).

Ya, Allah...!
Mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan baik. Amin...!

Semoga bermanfaat!


Oleh : Imron Kuswandi M.
Redaktur : Hakim
Dipublikasikan : MutiaraPublic

10 Perkara Penyebab Hati Mati !

Apabila Hati Sudah Mati, Maka ia tidak akan mampu membedakan perbuatan baik dan buruk, buta karena tidak tau lagi mana itu dosa dan mana itu pahala.

Ibarat Jazad yang mati maka jasad sudah tidak merasakan bila tubuhnya disakiti.

Begitu Pula Hati bila mati maka hati tidak bisa lagi mengontrol sikab dan perbuatan kita.

Maka kenalilah hatimu…???

Jangan sampai hatimu  menjadi keras lalu menjadi mati.

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar di kota Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan bertanya, Wahai Abu Ishaq, Allah Subhanahu wata’ala berfirman di dalam kitab suci-Nya,

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu”. (Q.S. Ghaafir: 10)
Sementara kami selalu berdoa semenjak lama, tetapi tidak kunjung dikabulkan.

Lalu, Ibrahim berkata, Wahai warga Basrah, hati kalian sudah mati oleh sepuluh perkara, :
  1. Kalian mengenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menunaikan hak-Nya.
  2. Kalian membaca kitabullah, tetapi tidak mau mengamalkannya.
  3. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
  4. Kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tetapi kalian akur dengannya. Kalian mengakui setan adalah musuh yang nyata bagimu, namun kalian bersekutu dengannya dan bersahabat dengannya.
  5. Kalian mengatakan cinta kepada surga, tetapi tidak mau beramal menuju ke sana.
  6. Kalian mengatakan takut kepada neraka, tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian kepadanya.
  7. Kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
  8. Kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.
  9. Kalian memakan karunia Rabb kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.
  10. Kalian sering mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.

Maka 10 perkara ini menyebabkan hati kalian mati dan bagaimana mungkin doa kalian bisa terkabul jika kalian tidak memperbaiki diri..??


Semoga bermanfaat,

Wallahu A’lambisawab...!

Redaktur : Zainul Hakim
Dipublikasikan Oleh : MutiaraPublic

Berjanji untuk jujur adalah mulia (Buat Wakil Rakyat Indonesia) !

Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham

Perhelatan hajat nasional bernama Pemilu Legislatif baru saja usai. Kita masih menantikan siapa saja yang akan menjadi wakil-wakil kita di gedung DPR/MPR nanti. Harapannya semoga mereka benar-benar memperjuangkan aspirasi keumatan di negeri ini.

Bukan sosok wakil rakyat yang berjuang untuk memperkaya diri dan keluarga atau partainya. Sekadar catatan untuk memberi ruang optimisme, penulis menilai persoalan terpenting untuk melepas dahaga harapan yang berlebihan adalah berjanji untuk jujur.

Menjadikan nyata kata dengan perbuatan. Kalau dibilang para wakil rakyat kita tidak jujur, haruslah jujur pula kita jawab ya.
Banyak bohong wakil rakyat kita ini. Seringnya terdengar para wakil rakyat kita berurusan dengan KPK adalah salah satu buktinya.

Padahal hal yang pasti terjadi, jika seseorang tidak jujur dan sering berbohong, akan kembali menabur kebohongan yang lain.
Terus ia berestafet sampai seseorang itu mau menyudahi kebohongannya dengan mangaku dan menutup dengan tobat atau minta maaf.

Karena itu hati-hatilah sahabatku dengan lisan yang telanjur sering diajak bohong dan dusta. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,’’Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu mengantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR Bukhari no. 6094, Muslim no. 2607).

Berjanji untuk jujur adalah mulia. Dan kemuliaan itu akan tecermin dengan selalu saja ditemukan jalan kebaikan dari Allah.

Ada saja caranya Allah SWT memberi kemudahan atas setiap masalahnya. Nabi tercinta kita, Muhammad SAW, digelari al-Amiin karena sifat jujurnya yang menjadikan diri beliau sangat bisa dipercaya.

Bukankah karena jujurnya beliau, Khadijah menaikkan kelasnya sebagai seorang pedagang menjadi suami tercinta.
Beliau hanya bertugas mengantarkan dagangan dan menjualkannya, tapi karena pesona kejujurannya itu, cerita hidupnya menjadi beda. Cerita kenabian pun bermula.

Maka, wahai para calon wakil rakyat, berjanjilah untuk jujur. Sudahi kebohongan-kebohongan kalian dari tidak amanah kepada rakyat. Percayalah Allah SWT akan mengantar asbab kejujuran kalian dalam tugas, menuju kemulian hidup.

Bukan hanya Allah SWT dan para penghuni langit yang menaruh hormat kepada kalian, tapi pada akhirnya pena sejarah kemanusiaan juga akan menulis sirah hidup kalian dengan tinta emas. 
Insya Allah.

Redaktur : Ahmad Jailani
Dipublikasikan : MutiaraPublic

Rabu, 13 November 2013

Ketika Seseorang Hamba Larut Dalam Munajat Kepada-Nya

ilustrasi : Ketika Seseorang Hamba Larut Dalam Munajat Kepada-Nya

Dari Anas ra, dari Nabi sholallohu alaihi wassalam, beliau mencerita-kan apa yang difirmankan Rabb yang Maha Mulia lagi Maha Agung:
“Apabila seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta; apabila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari)
Pesona Terindah Bagi Seorang Muslim
Sesungguhnya ketika seorang dihadapkan pada realita hidup yang membelit, serta memasung hati dan pikiran. Sehingga terasa susah untuk menggapai ketenangan dan kedamaian jiwa, membuat mata memaksakan diri meneteskan air mata kesedihannya, yang setiap bulirannya dipenuhi warna sebuah harapan. 

Maka yang terbaik untuk dilakukannya adalah mencari cara, tempat dan waktu yang tepat untuk mengingat, menyebut nama-Nya dan bermunajat (memohon) kepada-Nya. Karena hanya itu yang akan membuat jiwa menjadi tenang dan tentram. Alloh swt berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi ten-tram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Sukar dicari bandingannya saat seorang hamba yang tersekat oleh kegalauan jiwa dia mencoba untuk bangun, tegak berdiri, menyingkirkan selimut keputusasaan, sekalipun membuai dan menghangatkan namun jika dirasa selimut itu hanya sesaat memberikan kehangatan. 

Ketika malam mulai sunyi, ia menggerakan bibirnya untuk menyebut nama Alloh, berusaha menggali i’tibar (pelajaran) dari semua kejadian, dia menampakkan dengan jujur betapa dirinya membutuhkan kepada sang Penguasa-nya, Alloh subhanahu wata’ala. Ia akui akan kelemahan dirinya dengan memberikan pujian kepadaNya, mensucikan nama-Nya, dan ucapan tahlil, “Laailaahaillalloh”.

 Ia akan kedua tangannya dengan gelora hati tertuju hanya kepada Alloh swt, dia meminta kepada Rabb-nya uluran tangan pertolongan. Firman-Nya:
“Ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” (QS. Az-Zumar: 9)
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16)
Itulah keadaan terindah, ketika seseorang larut dalam munajat kepada-Nya di atas torehan luka karena kesedihan. Itulah kelezatan yang terbesar dari kelezatan dunia, karena hati saat itu berada pada orbit kedamaiannya, dan seluruh anggota badannya berada di atas puncak peristirahatan sejati. 

Keadaan seperti ini tidak akan pernah terlihat kecuali pada seorang hamba yang dapat merasakan manisnya iman, lezatnya ayat-ayat Al-Qur’an dan sejuknya keyakinan pada Rabbnya. Benarlah Nabi yang mulia saw yang bersabda,
“Perumpamaan orang yang menyebut nama Rabbnya dan orang yang tidak me-nyebut nama-Nya. Seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari)
Dalam lafadz muslim rhm:
“Perumpamaan rumah yang di dalam-nya disebut nama Alloh dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Alloh, seperti orang hidup dan orang mati.”
Hal yang Menggambar Kedekatan Kepada Allah!
1. Menumbuhkan sikap rendah diri dan perasaan sangat membutuhkan kepada Alloh swt.
Karena pada hakikatnya tidak ada satu makhluk pun yang dapat mempertahankan dan menjalankan kehidupannya, kecuali dengan ketentuan dan kekuasaan Alloh swt. Kemudian hamba itu membuktikan untuk tidak tertipu dengan pengetahuan yang dimilikinya dan usaha yang telah dilakukan-nya, bahkan ia senantiasa menghamparkan kepalanya di tanah, bersujud merendahkan diri di hadapan-Nya untuk memohon pertolongan di dalam meraih sebuah kemudahan dan keteguhan hati di dalam menghadapi berbagai macam problematika kehidupan. Lantunan do’anya adalah,
“Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkan hati ini di atas ketaatan ke-pada-Mu” (HR. Muslim)
“Wahai Tuhan yang Maha Hidup, wahai Tuhan yang Maha Berdiri Sendiri (ti-dak membutuhkan segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan darimu).” (HR. Al-Hakim)
2. Banyak berdzikir menyebut nama-Nya dalam setiap keadaan dan waktu
Melanggengkan dzikir kepada Alloh dalam segala tingkah laku, melalui lisan, qolbu, amal dan perilaku. Dan dzikir kepada Alloh merupakan sifat orang yang men-cintai Alloh dan dicintai oleh Alloh ta’ala. Alloh berfirman dalam hadits qudsi-Nya:
“Sesungguhnya Alloh Azza wa jalla berfirman, “Aku bersama hamba-Ku sela-ma dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak (untuk dzikir) kepada-Ku.” (HR. Ahmad dishahihkan Al-Bani)
Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
“Laki-laki dan perempuan yang ba-nyak menyebut (nama) Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)
3. Membaca Al-Qur’an dan mentadaburi kandungannya
Membaca Al-Qur’an dengan penghayatan dan pendalaman atau khusyu’ meru-pakan salah satu sebab juga untuk meraih cinta Alloh swt. Karenanya tidak mengherankan bila mendekatkan diri dengan membaca kitabulloh tersebut, merupakan pendekatakan diri kepada Alloh (taqarrub) paling agung yang diharuskan untuk mendapatkan mahabatulloh (cinta dari Alloh). 

Sebab Alloh ta’ala dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya menghendaki agar keimanan kita kepada-Nya merupakan keimanan kepada perkara yang ghaib, maka Alloh juga menghendaki agar seruan dan firman-Nya kepada kita sebagai suatu perkara yang tampak sejelas-jelasnya. Sehingga kita bisa melihat firman (kalam)-Nya dalam bentuk guratan tulisan, mendengarkannya dalam bentuk bacaan, serta berulang-ulang mengakrabinya melalui lafadz dan artinya untuk ditanamkan dalam benak dan sanubari kita. 

Sebagaimana ulama Salafus Shalih merasakan benar adanya makna tersebut dan mereka membaca Al-Qur’an, bahkan mereka seolah bersentuhan langsung dengan sentuhan ghaib yang asing ketika menerima surat dari sang kekasih yang dirindukan.
Al-Hasan bin Ali ra mengatakan:
“Bahwa generasi sebelum kalian telah melihat Al-Qur’an ini sebagai risalah-risa-lah dari Tuhan mereka yang kemudian me-reka renungkan di kala malam, lalu mere-ka merasa kehilangan di kala siang.” (An-Nawawi dalam At-Tibyan, fi Adabi Ha-malatil Qur’an)
Jika kita analisa betapa kitab Al-Qur’an merupakan sesuatu yang agung dan menyiratkan sinar yang terang benderang dimana Dzat yang Maha Besar, Maha Tinggi, Pemilik seluruh kerajaan dan Maha Suci itu memang mengkhususkan seruan dan kalam-Nya untuk manusia yang lemah, kerdil dan kecil ini agar mereka mencintainya, kemudian Dia subhanahu wata’ala berikan kepadanya kehormatan untuk berdialog dengan-Nya dan bermunajat kepada-Nya.
Ibnul Jauzi rohimalloh mengatakan:
“Orang yang membaca Al-Qur’an nan agung ini seharusnya melihat bagai-mana Alloh swt menyayangi makhluk-Nya, ketika mengalirkan makna-makna firman-Nya untuk memberi pemahaman kepada mereka, dan hendaknya dia berusaha untuk memahami bahwa yang sedang dibacanya adalah bukan pernyataan manusia. Dia (orang itu) selayaknya berusaha menghadirkan kebesaran dan kesucian Dzat yang menyatakan firman tersebut, sekaligus menghayati firman-Nya.” (Mukhtashar Minhajil Qasidin. Hal. 6)
Firman Alloh swt:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)
4. Istiqomah dalam beribadah
Taqarrub kepada Alloh subhanahu wata’ala dengan melalui ibadah-ibadah sunnah setelah melakukan ibadah-ibadah fardhu (wajib) akan lebih mendekatkan seorang hamba kepada Alloh dan sampai kepada derajat dicintai oleh Alloh setelah derajat di antara orang-orang yang diberi kesempatan untuk mencintai Alloh swt. Dalam hadits qudsi Alloh berfirman:
“Dan tidaklah hamba-Ku mendekat-kan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah aku wajibkan atasnya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Akulah yang membimbing pendengarannya ketika ia mendengar, Aku-lah ynag membimbing penglihatannya ketika ia melihat, dan Akulah yang membimbing tangannya ketika ia menjangkau dengan tangannya, dan yang membimbing kakinya ketika ia berjalan dengan kakinya. Dan sungguh jika ia meminta kepada-Ku Aku berikan permintaannya dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku Aku berikan kepadanya perlindungan .” (HR. Bukhari)
 Wallhu ‘alam bi shawab !

Oleh : Da'i Nusantara
Redaktur : Zainul Hakim
Dipublis Oleh : MutiaraPublic

Menelisik Pelajaran Dari Kisah Abu Tholib Menjelang Wafat !

Dalam shiroh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan bahwa paman Nabi -Abu Tholib- biasa melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. 

Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadits.

Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika menjelang Abu Tholib (paman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Tholib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada pamannya ketika itu:

أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai pamanku, katakanlah ‘laa ilaha illalah’ yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Umayyah berkata:

يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Wahai Abu Tholib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthollib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Tholib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Muttholib.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan :

لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”
Kemudian turunlah ayat:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam” (QS. At Taubah: 113)
Allah Ta’ala pun menurunkan ayat:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai” (QS. Al Qosshosh: 56) (HR. Bukhari no. 3884)
Beberapa pelajaran dari hadits di atas:
  1. Boleh menjenguk orang sakit yang non-muslim asal dengan tujuan untuk mendakwahinya masuk Islam.
  2. Bahaya memiliki teman yang jelek yang terus merayu pada kekafiran dan maksiat.
  3. Makna kalimat “laa ilaha illallah” adalah meninggalkan peribadahan pada berhala, wali dan orang sholeh. Orang-orang musyrik di masa Rasul sudah mengetahui hal ini.
  4. Seseorang yang mengucapkan kalimaat “laa ilaha illallah” dengan penuh keyakinan, maka ia dianggap masuk Islam.
  5. Terlarang meminta ampunan pada Allah untuk orang musyrik dan dilarang loyal pada mereka, juga dilarang mencintai mereka (atas dasar agama).
  6. Amalan itu dilihat dari akhirnya.
  7. Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak dapat memberi manfaat pada pamannya sendiri, lebih-lebih pada orang lain. Ini menunjukkan terlarangnya ketergantungan hati pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meraih manfaat dan menolak mudhorot.
  8. Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Tholib mati dalam keadaan kafir.
  9. Bahaya hanya mengekor (taklid) pada nenek moyang atau hanya mengikuti tradisi mereka, dan hal itu dijadikan alasan ketika didebat, “Ini kan tradisi nenek moyang kita.”
  10. Hidayah agar seseorang bisa melakukan ketaatan adalah kuasa Allah. Sedangkan kita sebagai manusia hanya bisa memberikan penjelasan pada kebenaran.

Semoga pelajaran ini bermanfaat bagi pengunjung, Hanya Allah yang memberi taufik...!


Sumber : muslim.or.id
Editor : Ahmad Jailani 
Dipublis kembali : MutiaraPublic

Urgensi Ma’rifatullah !

Ma’rifatullah (mengenal Allah) merupakan kebutuhan mendesak setiap insan. Dia merupakan landasan agama yang sangat penting. Seseorang tidaklah disebut muslim yang benar hingga ia mengenal, kemudian bersaksi bahwsanya hanya Allah Ta’ala saja yang berhak disembah.

Ma’rifatullah dan Ibadah
Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba tidak akan dapat merealisasikan tujuan tersebut, jika dia tidak mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)
Syaikh as-Sa’dy rahimahullah mengatakan, “Hal itu erat kaitannya dengan ma’rifatullah. Karena sesungguhnya kesempurnaa ibadah dipengaruhi oleh ma’rifatullah. Bahkan, setiap kali bertambah pengenalan seorang hamba kepada Allah, maka akan semakin sempurna ibadahnya.” (Taisiirul Kariimir Rahmaan hal. 755)

Kewajiban Pertama
Kewajiban pertama bagi seorang hamba ialah ma’rifatullah, yaitu mengenal keesaan Allah dalam uluhiyah (peribadatan). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda kepadanyal:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ 
Engkau akan mendatangi sekelompok orang dari ahli kitab. Maka hendaklah perkara yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah beribadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah …. (kemudian beliau menyebutkan kewajiban-kewajiban lainnya -pent). (HR. Bukhari no.1458 dan Muslim no.31)
Dalam lafadz yang lain :
فادعهم إلى أن يوحدوا الله. فإذا عرفوا الله 
Maka serulah mereka supaya men-tauhid-kan (mengesakan)  Allah. Jika mereka telah mengenal Allah … (HR. Bukhari no.7372)
Dalam lafadz yang lain :

فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ
Maka serulah mereka supaya bersaksi bahwsanya tiada sesembahan yang benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaati hal itu …. (HR. Bukhari no.1395, dan Muslim no.29)
Dan beberapa lafadz lain yang hampir sama....!

Dengan menggabungkan lafadz-lafadz hadis di atas, dapat diketahui bahwasanya ma’rifatullah (yang dalam bab ini berarti tauhid, atau dua kalimat syahadat) merupakan kewajiban pertama seorang hamba. (lihat Fathul Baari 13 / 367, Masail Ushuulud Diin hal. 49 – 86)

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat mengenal-Nya dan beribadah kepanya dengan benar. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga beliau, para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka.


Disadur Dari : muslim.or.id
Dipublikasikan kembali oleh : MutiaraPublic


Selasa, 12 November 2013

Dua Bentuk Penyakit Hati ?

ilustrasi : Penyakit Hati
Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit Syahwat dan Penyakit Syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman, artinya:
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. ” (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya…” (Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman, artinya:
“Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada).” (At-Taubah : 125)

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.
Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. “Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati.” *). 
Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. 
Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.
Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:
Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. 

Obat yang paling manjur adalah Al-Qur’an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.

Sesungguhnya Allah berfirman:
“Katakanlah: “Al-qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.” (Fushshilat : 44)

Al-qur’an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur’an sebagai obat. 
Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. 
Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? 
Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur’an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.

========================================================================================
*) [Penggalan akhir bait sya'ir Al-Mutanabbi, yang mana penggalan awalnya adalah: "Orang yang hina, akan mudah mendapat kehinaan"]

Dikutip dari: Abdul Akhir Hammad Alghunaimi, “Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah Dasar-dasar ‘Aqidah Menurut Ulama Salaf”, penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani, Pustaka At-Tibyan
Dipublikasikan Oleh : MutiaraPublic
 
Copyright © 2014 MutiaraPublic Share on Blogger Template Free Download .