BREAKING NEWS
pasang
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Mualaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Peperangan Telah Menuntun Keluargaku Menjadi Muslim Sejati

"ilustrasi"  Peperangan Telah Menuntun Keluargaku Menjadi Muslim Sejati
MutiaraPublic - Mereka berdua di besarkan di dalam keluarga Katolik Roma. Sang istri yang berasal dari kota Mannheim, Jerman. Sedangkan suaminya lahir di kota Kissimmee di negara sisi Florida, Amerika Serikat.

Chris Tarantino yang merupakan seseorang tentara Amerika. Satu ketika dia ditugaskan ke negara Irak pada Tahun 2006 silam. Dikala itulah istri dari Chris, "Cristina Tarantino" mulai mempertanyakan perihal hidup dan mati. Pertanyaan inilah yang lalu membimbingnya pada ajaran Islam.

ilustrasi
Cristina benar-benar takut akan suatu hal yang buruk bakal menimpa suaminya dalam pekerjaannya itu. Dia mulai bertanya-tanya apa yang berlangsung sesudah kematian serta bagaimana melakukan hidup paling baik di dunia ini. Dia menghabiskan Waktunya dengan kakak perempuannya yang sudah lebih dulu menjadi seorang Muslim sesudah menikah dengan seseorang warga dari negara Palestina. Cristina mencari tuntunan atau bimbingan dari kakaknya itu.

Jawaban-jawaban kakaknya mengenai ajaran Islam benar-benar masuk akal untuk dicerna oleh Cristina. Dia juga merasakan ketenangan. Kerapkali diantara pembicaraan telephone dengan suaminya yang ada di Camp Taji, Irak, ia mendiskusikan tentang perkembangan spiritual yang dialaminya. Chris (suami Cristina) pun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya waktu sang istri menyampaikan bahwa ia sudah menerima dan memeluk agama Islam.

Pertanyaan pertamanya pada sang istri yaitu apakah dia sudah mulai mengenakan jilbab. Waktu itu Cristina menyampaikan belum siap untuk berjilbab. Chrispun tidak banyak bertanya pada istrinya. Alih-alih, diapun senantiasa memohon panduan dalam doanya.

beberapa tahun kemudian, waktu ia (Chris) ditugaskan kembali di Irak pada tahun 2010, tentara memiliki rambut pirang serta bermata biru itu sudah menjadi seseorang Muslim. Dengan berani ia mengambil keputusan tak lagi menyembunyikan keislamannya.

"Saya pergi ke Kuwait beli sajadah serta mulai shalat disana. Menurut saya, Mengatakan bahwasanya saya adalah seseorang Muslim bukanlah akhir dari dunia, " Ucap Chirs.

Sepanjang satu dekade selalu melakukan pertempuran di negara-negara Muslim, sebagian tentara kadang-kadang mesti melawan persepsi umat Muslim memusuhi militer di mana mereka mengabdi. Chris tercatat di Angkatan Darat pada 1998, sebelum saat grup Islam radikal menyerang New York serta Washington DC.
 
Dia sempat ditugaskan berperang di dua negara Muslim. Dia menyampaikan tak sempat memiliki perasaan positif atau mungkin negatif perihal mengenai Muslim, juga saat menuju ke  negara Irak tersebut.

"Yang saya ketahui yaitu kami bakal memerangi terorisme. Untuk prajurit, saya cuma lakukan apa yang ditugaskan. Mereka mengatakan bahwa ketidaktahuan itu adalah kebahagiaan. Saya sangka waktu itu saya bodoh, " tuturnya.

Bersamaan perjalanan waktu, pasangan suami istri ini tumbuh lebih religius lagi. Mereka sering megunjungi suatu masjid Sunni di Mannheim. Dari sana mereka belajar semua inspirasi radikal serta berjihad dengan memeprcayakan kekerasan pada negara Barat adalah merupakan ide yang benar-benar salah.

Chris menyampaikan ia ikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. ia mengakui tak mengasosiasikan diri dengan radikalisme apa pun. Tetapi, Chris mempunyai kondisi yg tidak umum. Dia merupakan satu-satunya tentara AS di Masjid Al-Faruq Omar, Jerman, sisi dari Muslim minoritas di militer serta juga satu diantara dari sedikitnya tentara Muslim yg bukan keturunan dari keluarga Muslim atau mungkin dibilang ia merupakan keturunan Afrika-Amerika Muslim.

Walau ketentuan Chris serta istrinya untuk memeluk agama islam sifatnya pribadi, bukan hanya politis, pandangannya tentang perang di Irak serta Afghanistan serta perang dengan cara umum, sudah berubah. Pemikiran Chris tentang perang betul-betul beralih terbalik (180 derajat).

Dia memaknai benar hadits yang mengatakan membunuh satu orang yg tidak bersalah sama berartinya dengan membunuh semua orang. Serta, menyelamatkan satu orang yang tidak bersalah sama halnya menyelamatkan seluruh dunia.

Untuk sisi dari ide tersebut, pasangan ini membantu membuat suatu grup non-profit bertujuan untuk mengirim persediaan makanan serta obat-obatan ke negara Somalia. Cristina merupakan satu diantara dari tujuh orang di masjid, mereka yang membuat grup Islamischer Humanitaerer Entwicklungsdienst atau mungkin dikenal Islamic Humanitarian Development Service (www. IHED. de)

Cuma dalam beberapa minggu, badan amal ini sudah menghimpun serta mengirim 135 ton makanan serta obat-obatan. Semua bantuan mereka himpun, diatur, ditata serta dikerjakan sepanjang bulan Ramadhan. 
 
Dirumah, keluarga Tarantino selalu mempelajari iman baru mereka serta berupaya menjalaninya semaksimal mungkin.

Saat meninggalkan rumah, Cristina menggunakan pakaian lengan panjang, rok panjang, serta jilbab. Beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. 
 
"Saya terasa seperti astronot, " ungkapnya.

Namun, suaminya tidak pernah mempunyai persoalan dengan penerimaan tentara. Tentara di unitnya tahu dia seseorang Muslim. Chris pun  bisa menyempatkan waktu untuk beribadah shalat. Dia juga membicarakan perihal seputar Islam pada rekannya sebagai langkahnya dalam berdakwah. Selanjutnya, mereka menghormati Chris serta juga mengingatkannya ketika waktu shalat tiba.

Ia merencanakan keluar dari Angkatan Darat tahun depan, serta bergegas bersama keluarganya ke negara Amerika Serikat. Cristina pun merencanakan akan mengejar gelar sarjana di bagian komunikasi. Chris merencanakan meneruskan studi di Embry-Riddle Aeronautical University.

Pasangan ini bertemu di pangkalan di Mannheim lebih dari satu dekade lalu. Mereka sudah menikah tiga kali. Pertama di balai kota, selanjutnya di gereja serta yang terakhir di masjid. Satu diantara hal yang paling susah yaitu memberikan pemahaman pada dua putra kecil mereka. 
 
Dengan cara bertahap anak-anak itu mesti melupakan peri gigi serta Sinterklas. Selama ini, putra mereka bisa menerima perihal ajaran Islam dengan baik sekali.

Chris sedikit tak nyaman saat diskusi tentang kehidupan sesudah mati, janji Tuhan memperoleh sebagian bidadari di surga serta poligami. Istrinya menyampaikan poligami yaitu pilihan, namun bukan hanya bermakna itu yaitu pilihan yang wajib dan bukan pilihan yang perlu di ambil.
 
 
Disadur dari berbagai sumber (power by : google.co.id).
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com


Sabtu, 03 Mei 2014

Mantan Penggawa Asal Timnas Prancis Kini Telah Memeluk Islam

Mantan penggawa asal timnas Prancis - Francois Bracci
MutiaraPublic - Mantan penggawa asal timnas Prancis yakni "Francois Bracci", telah mengambil suatu keputusan untuk menjadi Muslim sejati. Bracci yang saat ini jadi pelatih club Liga Premier Aljazair, Laghouat Club sebenarnya sejak lama sudah tertarik pada agama Islam.

"Bracci mengucapkan dua kalimat syahadat selesai shalat jumat lalu, " dikutip pada catat Harian Aljazair, Reflexiondz.

Harian tersebut menuliskan prosesi syahadat yang dilakukan Bracci begitu khidmat. Setelah selesai bersyahadat, Bracci menyampaikan ia sudah belajar banyak perihal tentang Islam sepanjang bertahun-tahun di tiga negara Islam, diantaranya di negara Maroko, Tunisia, kemudian sekarang ini di Aljazair.

Pemain yang sempat membela Olympique de Marseille serta Strassbourg ini bukanlah pelatih sepakbola pertama yang memeluk agama Islam. Namun ada juga pada masa itu seperti, kolega Bracci, Kasr El-Hiran yang melatih club Shabab juga sudah memeluk agama Islam.



Redaktur : Zainul Hakim
Dipublikasi  : mutirapublik.blogspot.com


Selasa, 29 April 2014

Sophia Mueller Benar-benar Nyaman Setelah Menjadi Mualaf

Sophia Mueller Benar-benar Nyaman Setelah Menjadi Mualaf
Artis peran, penyanyi, serta model Sophia Mueller (43) yang sudah 2 x bercerai serta mempunyai dua anak ini. Telah mengaku  bahwa dirinya sudah memeluk agama Islam, atau istilah lain menjadi mualaf.

Akan tetapi, Sophia Mueller tidak bersedia memberikan penjelasan panjang lebar tentang hal semacam itu. 
"Ini privat banget sih masalah agama, bukan hanya masalah siapa-siapa saya mualaf atau mungkin tak, " ucap Sophia Mueller, seraya sambil tersenyum, saat ia berada di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (28/4/2014) malam kemaren.

Saat itu, Sophia Mueller pun di tanya oleh beberapa peliput/ wartawan, perihal benar tidaknya berita yang menyebutkan bahwasanya ia telah menjadi mualaf ? 

Masih dalam pertanyaan itu, Sophie, yang saat ini diberitakan tengah menjalin kasih dengan Ariel vokalis band NOAH (32), lalu menegaskan bahwasanya ia memanglah sudah menjadi mualaf, dan masih terus belajar perihal agama Islam, serta mengungkapkan bahwa kini ia terasa nyaman menjalaninya. 

" Sudah lah (jadi mualaf). Benar-benar nikmati. Saya selalu belajar. Benar-benar nyaman," Tutur Sophia Mueller.


Redaktur : Erlinda
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com

Minggu, 27 April 2014

Muallaf : Antara Islam dan Orang Tua, (Anna Arwa) !

Muallaf : Antara Islam dan Orang Tua, (Anna Arwa) !
MutiaraPublic - Kisah Anna Arwa begitu mengharukan, semasa kecilnya Anna Arwa begitu sangat bahagia. dalam kehidupan Ia dikelilingi oleh orang-orang yang melindungi dan menjaganya dengan norma moral yang sangat ketat. 

Seperti yang kami lansir dari onislam.net, "Kami bersama-sama memecahkan segala masalah dengan pemahaman dua arah, kedekatan dan toleransi,"  Ucap Anna Arwa.

Sebetulnya dari segi kepercayaan, Anna Arwa dan keluarganya sama sekali tidak memandang agama sebagai hal yang tak perlu dipermasalahkan. Artinya keluarga Anna Arwa sangat mengakui kepercayaan tentang adanya Tuhan, akan tetapi mereka tidak melalui dengan beragama. 

"Meski begitu saya sangat bersyukur dibesarkan oleh keluarga yang menghargai norma moral," Ucap Anna Arwa.

Pada saat usianya yang memungkinkan untuk lebih berpikir lebih mendalam, ternyata tanpa disadari Anna Arwa masuk pada tahapan mencari suatu definisi yang tepat soal kepercayaannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Hal inilah yang disadari Anna Arwa merupakan jalan dari Sang Penciptanya.

Anna Arwa-pun bertemu dengan seorang mualaf. Mereka saling berdiskusi secara lebih mendalam lagi tentang Agama Islam dan dunia Muslim. "Saya tidak bisa menahan perasaan saat mendengar cerita dia," Ucap Anna Arwa.

Diskusi itu sempat menggoyahkan fondasi kepercayaan Anna Arwa. Namun sayang sekali Anna Arwa masih lebih memilih untuk hidup sesuai dengan ajarang orang tuanya. "Saya tidak pernah mengetahui ada sudut pandang lain, ini memicu situasi kontradiktif dalam diri saya," Ucap Anna Arwa.

Dengan penug hidayah Allah SWT. tanpa dia sadari, pada akhirnya dalam benak hati Anna Arwa memutuskan untuk meneliti betul mengenai kebenaran dari cerita itu (pada saat ia berdiskusi dengan temannya). Kemudian Anna Arwa membaca salah satu buku tentang islam, dan dengan izin Allah SWAT., buku itu yang pada akhirnya telah meluluhkan Anna Arwa. 

"Islam sesuai dengan keyakinan saya bahwa hanya ada satu Tuhan, Yaitu Allah SWT." Ucap Anna Arwa.

Ketertarikannya pun terhadap Islam begitu sangat besar, akan tetapi ia masih memikirkan dampak dari reaksi keluarganya yang sekarang bertolak belakang dengan kepercayaan tentang agama. 

Secara perlahan keluarganya mulai menyadari perubahan pribadi dan prilaku Anna Arwa, yang kini tidaklah lagi  mengkonsumsi babi, dan minuman keras (alkohol). malah keluarganyapun kaget dengan reaksi Anna Arwa dengan kegiatan barunya yakni berpuasa dan membaca Alquran.

"Keluargakupun (Adik) akhirnya tahu, dan ia ingin menghentikan saya," Ungkap Anna Arwa.

Sejak itu pula, Anna justru semakin lebih khawatir, dirinya akan meninggal dalam keadaan non-Muslim. Sebabnya, Anna Arwa selalu memanjatkan doa kepada tuhan, agar diberikan kesempatan untuk pergi, dan memulai kehidupan yang baru sebagai muslim. 

Alhamdulillah, Anna Arwa pun mulai hidup menjadi seorang Muslim sejati.

Ia lebih memilih menjadi seorang Muslim ketimbang ia memilih orang tua dan keluarganya, hal yang sangatlah berat untuk diputuskan. Terlebih orang tua Anna Arwa menolak keras putusan anaknya itu menjadi seorang Muslim. dengan catatan meereka (orang tua Anna Arwa) mulai tidak mengakuinya sebagai anak. 

Pada posisi ini, Anna Arwa mulai belajar memperjuankan keimanannya. Dia ingin menjadi Muslim yang utuh. "Saya percaya, Allah akan membimbing saya. Saya akan menjalani kehidupan yang baik dan bermakna," Ungkap Anna Arwa !

Subhanallah Walhamdulillah Walailaha Illallahu Wallahu Akbar...!



Disadur dari berbagai sumber (google.co.id)
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasi : mutiarapublic.blogspot.com

Rabu, 23 April 2014

Putra Dari Pembuat Film "Fitna" Akhirnya Mengikuti Jejak Sang Ayah ( Memeluk Agama Islam )

Iskander Amien De Vrie (kiri), dan ayahnya, Arnoud van Doorn (kanan).
MutiaraPublic.blogspot.com, Iskander Amien De Vrie adalah seorang putra Arnoud van Doorn, yaitu mantan politikus asal negara Belanda yang sangat anti-Islam, namun pada akhirnya Arnound van Doom memeluk agama islam, bagitu juga anaknya yang akhirnya mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang Muslim.

Seperti orang tuanya, De Vrie menemukan hidayah setelah mempelajari kitab suci Alqur'an.
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad (SAW) adalah hamba dan utusan Allah yang terakhir,” Ucap Iskander Amin De Vrie ketika ia mengucapkan dua Kalimat Syahadat, (dilansir Khaleej Times) Senin (21/2).
De Vrie adalah salah satu di antara 37 orang yang memeluk agama Islam selama berada di Dubai International Peace Convention.
“Saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah masuk Islam. Saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini, dan itu akhirnya mengubah persepsi saya tentang Muslim,” Ucap Iskander Amin De Vrie (putra Van Doom).
Sejak melihat perubahan sang ayah, De Vrie mengaku mulai tergerak hatinya untuk mempelajari kitab suci Alqur'an. De Vrie  pun sengaja meluangkan waktunya untuk mendengarkan dan mengkaji ceramah dari para ulama' terkemuka.

Arnoud Van Doorn (orang tua De Vrie)  dulunya adalah mantan anggota Partai Kebebasan (PVV), yaitu sebuah partai politik sayap kanan garis keras di negara Belanda. Dia ( Van Doom) adalah salah satu dari para pemimpin PVV yang membantu untuk membuat/ memproduksi sebuah film provokatif berjudul ‘Fitna’ pada tahun 2008 silam, Film yang isinya adalah menghubung-hubungkan Islam dan Alquran dengan garis kekerasan.

Namun pada akhirnya, siapa yang menyangka jika hal tersebut justru menuntun Van Doorn dari cahaya kegelapan menuju cahaya kebenaran yaitu agama Islam. Pada tahun lalu, ia memutuskan menjadi seorang Musilm setelah mempelajari kitab suci Alquran secara mendalam dan ia juga membaca lebih banyak tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW.
“Sampai sekarang, saya masih sangat menyesal karena telah mendistribusikan film (Fitna) itu. Saya merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu,” Ucap Van Doorn (dilansir OnIslam.net.)
“Untuk itu, saya ingin menggunakan segala bakat dan kemampuan yang saya miliki dalam cara yang positif dengan menyebarkan kebenaran tentang Islam.” Ucap Van Doorn.
Subhanallah...!


Redaktur : Chairul Anam
Dipublikasikan : mutiarapublic.blogspot.com

Sabtu, 12 April 2014

Hidup yang Sangat Berliku Akhirnya Berakhir Syahadat. Oleh : Najaah Arij

ilustrasi : mualaf
Hidup Najaah Arij begitu berliku. Ia dibesarkan kakek dan neneknya. Hal yang membuat ia akhirnya tahu, orang tuanya tidak menginginkan keberadaannya.
Arij hanya bisa memahami, banyak orang mungkin tidak menginginkan kehadirannya. Tapi pemilik kehidupan dan alam semesta punya rencana untuknya.
Rencana itu termasuk pernikahannya dengan seorang kulit hitam. Arij pun tak membiarkan pandangan rasis menghalanginya untuk menikahi seorang yang pantas menjadi suaminya.
Belum selesai masalah itu, ia mengalami kecelakaan yang membuatnya harus dirawat. "Aku terluka parah," ungkap dia seperti dilansir onislam.net.
Kecelakaan itu membuatnya harus dirawat. Sayang, ia tidak memiliki dana yang cukup untuk biaya pengobatannya. Asuransi kesehatannya tidak cukup menutupi. "Jadi, aku tidak menjalani pengobatan sama sekali. Padahal kakiku patah, bahu dan sikuku terluka," ucap dia.
Tak ada bantuan, tak ada yang menolong membuat Ariji meminta bantuan pengacara. Ia ingin menuntut gereja. Suatu hari, ia menemukan pengacara yang akhirnya mau membantunya menuntut gereja.
"Pengacara itu berasal dari Arab Saudi, ia mau menerima kasus saya,  tapi dengan catatan tidak ada pernyataan buruk soal gereja," ucap dia.
Permintaan itu membuat Arij tertegun. Dalam hati dan pikirannya, muncul pertanyaan. Mengapa seorang pengacara yang bukan Kristen justru tak ingin mencela gereja. Padahal sangat jelas, ada ketidakpedulian gereja terhadap masalah yang dihadapinya. 
"Pada akhirnya aku tahu, dia seorang Muslim. Aku tidak tahu apa-apa soal Islam," ucap dia
Berjalannya waktu, masalah Arij dan gereja selesai dengan baik. Arij pun kian kagum dengan cara dan pendekatan yang dilakukan pengacara itu. Ia pun tertarik dengan agama yang dianut sang pengacara. 
Sejak itu, Arij mulai membaca literatur tentang Islam. Setelah berbulan-bulan, Ariji pada satu momentum, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.  "Aku merasa apa yang dialaminya merupakan cobaan besar, yang menuntunya pada Allah," ucap dia.
"Aku mencintai Islam lebih dari apa pun. Alhamdulillah, aku berterima kasih kepada Allah yang telah mengirimkan saya pengacara, orang-orang yang mengajari saya tentang Islam," ucap dia.


Redaktur : Ahmad Jailani
Dipublikasikan : MutiaraPublic

Kamis, 14 November 2013

Mualaf : Hidayah dan Burkini ( Aishah Schwartz )

Aishah Schwartz (mualaf)
Satu dekade silam, Aishah Schwartz memutuskan menjadi Muslim. Putusan ini diambilnya, setelah 41 tahun tak pernah tahu apa itu Islam dan Muslim. Kini, ia kian memahami mengapa Allah memberikan hidayah kepadanya. "Subhanallah, aku bersyukur menjadi Muslim," kata dia seperti dikutip onislam.net.

Sebelum menjadi Muslim, Aishah gemar berenang. Ia bahkan rutin mengunjungi laut Merah setiap tahunnya. Setelah menjadi Muslim, ada sejumlah adaptasi yang perlu dilakukan. Intinya, Islam tidak menghalangi hobi berenang Aishah. "Islam itu mendorong kita memberikan prioritas untuk menjaga kesehatan tubuh. Kesehatan ini mencakup pikiran, tubuh dan jiwa," Ucapnya.

Umar bin Khattab, kata dia, seperti diriwayatkan Tabarani, menyuruh anaknya berenang, berkuda dan memanag. Ini artinya, berenang ini memberikan manfaat yang cukup besar bagi kesehatan tubuh. Berenang, kata Aisha, merupakan olahraga multifungsi yang melatih peningkatan aktivitas otak, kontrol berat badan, jantung sehat dan lainnya. "Pertanyaannya, tidak mungkin aku mengenakan bikini. Lalu apa yang aku kenakan," Ucapnya.

Soal ini, Aisha pusing bukan kepalang. Akhirnya, ia coba berenang dengan mengenakan abaya. Yang terjadi saat itu, ia tak bisa berenang, karena abaya yang dikenakannya menyulitkannya. "Alhamdulillah, saat itu mulai dikenal burkini, pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki," Ucapnya.

Menurut Aisha, burkini ini menyeimbangkan antara kebutuhan dan kewajiban seorang Muslimah. Setiap Muslimah butuh olahraga guna menjaga kesehatan, namun ia juga wajib menjaga auratnya. Burkini menjadi jembatan itu. "Tapi Anda jangan salah, burkini bukan milik Muslimah saja, kalangan non-Muslim bisa memakainya. Saya ingat, ada tetangga saya yang non-Muslim memesan burkin," Ucapnya..!


Sumber : ROL
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic


Selasa, 05 November 2013

Harapan Mualaf di Tahun Baru Islam 1435 H

Foto : Ahmad Kainama

Umat Islam di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Islam 1435 H. Kesempatan ini dimanfaatkan setiap Muslim dengan berbagai cara.

Ahmad Kainama, Ketua Paguyuban Mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) misalnya, menjadikan tahun baru Islam sebagai penambah semangat dalam berdakwah. "Tahun baru ini, saya berharap pembinaan bisa dilakukan dimana pun, tidak hanya di MASK," Ucapnya.

Menurut dia, dengan meluasnya pembinaan mualaf hingga seantero nusantara, mereka yang tertarik mempelajari dan mendalami Islam tak lagi kesulitan. Ini mempermudah mereka mendapatkan apa yang dibutuhkan.

"Saya percaya, ada potensi yang bisa dikembangkan," kata dia.

Kainama mengungkap itulah tren yang terjadi saat ini. Itu sebabnya, perlu dimanfaatkan umat Islam guna perkembangan dakwah ke depan. "Kalau tidak dimanfaatkan sayang. Ini dakwah, harus terus dilakukan," kata dia.


Sumber : republica.co.id
Editor : Z.H.

Sabtu, 02 November 2013

Kagum Dengan Kepribadian Rasulullah, Chris Irwin Memeluk Islam !

Chris Irwin tak pernah membayangkan akan memeluk Islam. Agama yang begitu asing bagi warga San Antonio, Texas, AS. "Saya sejak kecil dikenalkan agama, tapi bukan hal yang istimewa," kenang dia seperti dilansir onislam.net

Itu sebabnya, Cris tak tahu banyak tentang agama atau Tuhan. Namun, secara naluri ia menyadari hanya ada satu Tuhan. Sosok yang saat itu dianggapnya tidak banyak membantunya dalam menjalani kehidupan.

Tuhan yang dikenalnya merupakan sosok yang membuat seorang Chris begitu rendah hati lantaran selalu gagal dalam banyak hal. Karena itu, Ateisme dipilih karena dianggap membeaskan pemikirannya.

Cerita ateisme itu berakhir ketika ia bertemu seorang perempuan Kristen. Diskusi terbangun, keyakinan Chris terhadap agama pun tumbuh. Mulailah ia kembali membaca Alkitab. Hal yang sudah lama ditinggalkannya. 

Semangatnya mempelajari ajaran Kristen justru mendapat penolakan dari keluarganya. Orang tuanya melarang ia pergi ke gereja. Itu sebabnya, Chris hanya mengandalkan buku fiksi tentang Kristen. Inilah yang membuatnya frustasi.

"Saya tidak tahu apakah yang saya baca ini benar. Saya merasa ada yang bohong," Ucap dia.

Suatu hari, ia menemukan buku tentang sejarah Islam. Awalnya, Chris begitu emosional. Maklum, sejak kecil Chris hanya memahami Islam sebagai agama setan. Pandangan itu berubah ketika ia mulai membacanya. Satu kalimat yang diingatnya, Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril.

"Sepertinya saya ingin soal ini," kata dia.

Chris begitu kagum dengan kepribadian Muhammad. Baginya, Rasulullah seorang manusia biasa dan sederhana yang menyempurnakan ajaran Nabi terdahulu, dalam hal ini Isa dan Daud. "Entah mengapa saya ketagihan soal ini," kata dia.

Sejak itu, Chris mulai mencari banyak informasi soal Islam dan Muslim. Ia habiskan waktu berjam-jam guna memenuhi rasa hausnya akan Islam dan Muslim. Satu kesimpulan yang didapatnya, ia ingin menjadi Muslim. "Tapi bagaimana caranya," kenang dia ketika itu.

Sepanjang hidupnya, Chris tidak pernah berinteraksi dengan Muslim. Ia bahkan dididik untuk membenci Muslim. Tapi Allah SWT membantunya melalui keteguhan hatinya. Chris terus membaca dan membaca. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan pengurus organisasi Islam di San Antonio.

Melalui dia, Chris memeluk Islam. Melalui dia pula, Chris mendalami ajaran Islam. Usai mengucapkan syahadat, Chris harus mengikuti wajib militer. Inilah awal, Chris bertemu dengan Muslim dari berbagai negara. Memang, ada ketakutan dalam dirinya dengan fanatisme. 

"Tapi saya dan mereka bersaudara, mereka ucapkan assalamualikum sebagai bentuk kasih sayang terhadap sesama Muslim. Ini yang membuat saya lega terlepas dari situasi yang tidak mendukung itu," Ungkapnya.

Sumber : onislam.net & ROL
Editor : Zainul Hakim
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic


Rabu, 30 Oktober 2013

Berawal Dari Coba-Coba, Malah Dia Memeluk Islam (Mualaf) ?

Pada suatu hari, seorang intelektual dan sastrawan asal Inggris bernama Sir Rowland George Allanson, menyaksikan kaum muslimin di Pakistan sedang berpuasa. Ketika itu kebetulan sedang musim panas yang sangat terik sekali (panas sekali).
“Sungguh gila orang-orang ini,” Ucap bathinnya. “Di panas terik seperti ini mereka tidak minum dan tidak makan.”
Setelah menyaksikan mereka yang berpuasa ternyata bukannya lemah, tapi malah tampak lebih segar dan bahagia, tergeraklah hatinya ingin mencoba merasakan nikmatnya berpuasa.

Maka, ia pun mulai berpuasa, bukan karena iman, melainkan sekadar coba-coba belaka. Pada hari pertama dan kedua, ia merasakan kepayahan yang luar biasa: tangan dan kakinya gemetaran.

Ketika meneruskan berpuasa sampai hari ketiga, ia mulai terbiasa. Dan pada hari keempat ia sudah merasakan kenikmatan berpuasa. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya jernih, terbebas dari rangsangan dan keinginan aneh-aneh.

Karena penasaran dengan ajaran puasa ini, ia pun menyelidiki hakikat puasa sebagaimana diajarkan Islam. Sebagai ilmuwan, ia tak puas jika tidak mempelajari sesuatu sampai tuntas. Maka ia pun mempelajari dan meneliti Al-Quran.

Pada akhirnya, kepuasannya sebagai ilmuwan terpenuhi: ia menemukan kebenaran sejati. Hidayah Allah SWT pun menetes ke dalam qalbunya, hatinya melonjak bahagia. “Inilah agama yang selama ini aku cari-cari,” katanya.

Selang beberapa waktu kemudian, tepatnya 16 November 1913, ia pun membaca dua kalimah syahadat, dan mengganti namanya menjadi “Syaikh Rahmatullah Al-Farooq”, sementara panggilan sehari-harinya “Lord Headly AlFarooq”.

Pengetahuan dan kekagumannya terhadap Islam kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku yang laris, A Western Awakening to Islam (Fajar Kebangkitan Barat Menyambut Islam). 


Sumber : IslamPos
Redaktur : Zainul Hakim
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic

Selasa, 29 Oktober 2013

Mualaf : Pedagang Sembako Di Pasar Purworejo Temukan Islam Setelah Tertipu Ratusan Juta ?

ilustrasi
Phoa Nyok Sen alias Alex adalah pedagang Sembako di Pasar Purworejo, Jawa Tengah. Tahun 2000-an, usahanya cukup sukses dengan omzet antara Rp 70-80 juta setiap hari. Namun kejayaan ini lambat laun redup dan akhirnya bangkrut, serta masih harus menanggung utang ratusan juta rupiah.

Kebangkrutan ini akibat ulah karyawan kepercayaannya. Uang hasil berdagangnya seharusnya untuk membayar dagangan, ternyata dikantongi karyawannya tersebut. Akibatnya, Alex yang harus menanggung hutangnya.

Puncaknya, awal tahun 2004, Alex terlilit hutang hingga Rp 800 juta. “Bagi saya hutang ini sangat banyak dan saya merasa tidak sanggup untuk mengembalikan meskipun harus menjual tanah dan rumah,” kata Alex kepada Republika di Purworejo, Jawa Tengah, Ahad (20/1).

Banyaknya utang yang harus ditanggung ini membuat Alex tidak bisa hidup tenteram. Setiap hari dirinya mendapat teror baik melalui telepon maupun didatangi debt collector yang menagih utang.

Bahkan ada pemberi pinjaman yang menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Kondisi ini membuat Alex sangat kalut. Dengan kondisi ini, Ia tidak berani keluar rumah pada siang hari karena takut pada penagih utang.

“Saya berusaha untuk mengurung diri. Saya merasa tenteram itu pada malam hari. Ketika semua pintu saya kunci dan lampu saya matikan. Itu baru tenteram. Namun ketika matahari terbit lagi, perasaan menjadi sangat terancam dan tidak tenang,” kata bapak dua anak ini.

Di dalam kekalutan ini, Alex dan isterinya Robiyatul Koriah pernah mempunyai ide untuk mengakhiri hidup saja bersama anak-anaknya. Ia mengusulkan pada isterinya untuk minum obat nyamuk.

Namun ide itu urung dilakukan karena ada teman yang memberi nasehat jika ide itu bukan jalan yang terbaik. Kemudian temannya itu menyarankan untuk menemui seorang ustad yang juga guru di sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purworejo. Ustad tersebut bernama Widadi. Tepatnya, 17 Agustus 2004.

Ketika disarankan menemui ustad, Alex pun tidak merasa yakin permasalahannya dapat segera teratasi. “Ketika diajak ke rumah ustad, saya ya ikut saja dan pikiran masih kalut,” Ujarnya.

Di rumah ustad, Alex menceritakan permasalahan yang sedang dialami. “Ya, intinya Curhat,” kata Alex. Kemudian oleh ustad, Alex tidak langsung membaca syahadat. Namun ia diminta untuk tidur di rumah ustad dan melupakan segala permasalahan yang dihadapi.

Setelah bangun, Alex merasakan ada ketenangan. Kemudian meminta diri untuk pulang ke rumahnya. Ia berusaha untuk menjalani hidup seperti biasanya.

Namun dalam beberapa malam tidur di rumahnya, Alex bermimpi ditemui orang tinggi, besar mengenakan pakaian jubah putih dari kepala hingga ujung kakinya. Namun wajahnya transparan dan memancarkan sinar terang sehingga Alex tidak bisa melihat wajah sosok tersebut.

Setelah mimpi, Alex penasaran. Apa maksud dari mimpi ini. Kemudian ia kembali menemui ustadnya dan menceritakan mimpinya. “Mendengar cerita mimpi saya, ustad mengatakan sudah dekat. Saya tanya, sudah dekat apanya?” kata Alex.

Kemudian dijawab ustad, sudah dekat dengan petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu, Alex baru mengucapkan kalimat syahadat.

Setelah masuk Islam, Alex diminta untuk melaksanakan shalat lima waktu. Bagi Alex tugas shalat fardhu ini dirasakan sangat berat. Sebab dirinya hanya bisa membaca Surat Al Fatihah saja. Demikian juga agama yang dianut sebelumnya, Katolik dan Kong Hu Cu tidak ada tuntunan untuk shalat.

“Rasanya, saya tidak mungkin bisa menjalankan shalat lima waktu. Tetapi karena terbentur pada satu permasalahan yang berat dan supaya memiliki iman yang kuat serta permasalahan dapat teratasi, akhirnya saya jalani,” kata pria kelahiran 2 Juli 1960 ini.

Selain shalat lima waktu, Alex juga diminta untuk melaksanakan amalan-amalan sunah. Di antaranya, puasa Senin dan Kamis, shalat hajad di malam hari.

Adanya dorongan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, Alex bisa melaksanakan apa yang dianjurkan ustadnya. “Alhamdulillah setelah masuk Islam dan mengamalkan ajarannya, satu per satu permasalahan dapat teratasi. Di antaranya, tuntutan di pengadilan dicabut, suplaier mempercayai lagi dan memberikan dagangannya,” kata Alex.

Kini Alex bisa bernafas lega usaha yang digeluti terus berkembang. Sebelumnya, hanya memiliki satu kios di Pasar Purworejo, kini sudah menjadi dua dengan omzet yang lebih besar dari yang diperoleh sebelumnya.

Alex yang hanya menempuh pendidikan sampai SMP ini sudah bisa hidup lebih sejahtera ketimbang sebelumnya. Bahkan anak keduanya dimasukkan ke pondok pesantren agar memiliki pendidikan agama Islam yang lebih bagus.

Ke depan, jika sudah merasa ada panggilan berencana akan menunaikan ibadah haji. “Saya memang belum mendaftar, tetapi saya yakin suatu ketika jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanggil, pasti bisa naik haji,” ujarnya.


Dipublikasikan Oleh : MutiaraPublic

Senin, 28 Oktober 2013

Mengingat Kembali Kisah "Yenni Farida", Peristiwa Adzan Ghaib Di Pesawat...!

Kalau mengingat kembali saat pertama saya merasa terpanggil untuk menjadi seorang muslimah, rasanya tidak mampu saya menahan perasaan kagum dan takjub saya pada Ilahi Rabbi, Sang Pencipta Yang Maha Agung. 

Betapa tidak, peristiwa terdengarnya suara adzan di telinga saya saat berada di dalam pesawat dengan ketinggian 300-3000 kaki (feet), adalah sesuatu yang alau dipikirkan secara logika sangat mustahil.

Terlebih lagi, saat saya sadari bahwa suara adzan, yang entah dari mana asalnya itu, hanya saya sendiri yang mendengar. Namun, saat detik itu, setelah saya dengar dengan khusyu suara adzan “ghaib” selama hampir 15 menit itu, tertanam niat di hati saya untuk masuk Islam.

Peristiwa di dalam pesawat yang terjadi beberapa tahun lalu itu, juga mengingatkan saya pada masa lalu, yang terus terang saja, tidak terlalu menyenangkan. Kehidupan yang saya jalani sebelum mengenal Islam adalah hari-hari yang seakan tak pernah berakhir. Terasa panjang, berat, dan sepi.

Saya, Liu Lie Hwa, yang lahir di Medan, Sumatra Utara, tahun 1972 silam , sudah harus bekerja keras banting tulang, agar pendidikan saya tidak berhenti di tengah jalan. Meski saya anak bungsu dari lima bersaudara, tapi saya bertekad untuk membiayai sendiri sekolah saya, setidak-tidaknya harus tamat SMU.

Itu terjadi karena kedua orang tua kami meninggal dunia pada saat saya masih membutuhkan banyak biaya, terutama untuk pendidikan. Keempat kakak saya sebenarnya mau menanggung semua kebutuhan saya, setidaknya hingga saya merasa mampu untuk hidup mandiri. 

Tapi saya, dengan segala kerendahan hati, meminta kepada mereka agar membiarkan saya berusaha sendiri lebih dulu. “Bila aku nggak mampu, barulah kakak boleh membantuku,” kata saya saat itu. Nekat, memang. Tapi, saya tidak menyesal sedikit pun dengan keputusan itu.

Benar kata orang, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Karena usaha keras, saya berhasil sekolah sambil bekerja sebagai tenaga pembukuan di sebuah toko kecil di kota Medan. Selain itu, saya yang kata orangpunya suara lumayan bagus mencoba juga untuk meniti karier dibidang tarik suara. 

Saya menjadi penyanyi amatir, sekadar untuk menambah uang saku. Lumayan, pikir saya. Dan selama itu halal, saya tidak malu menjalaninya. Begitulah kehidupan yang saya jalani saat itu. Dan, mengenai perjalanan batin saya dalam mencari ketenangan lewat agama, sempat juga membawa saya untuk berpaling dan agama semula, menjadi seorang pengikut Budha. 

Saya terang-terangan masuk agama Budha, tahun 1987, saat duduk di kelas satu SMU. Yang saya tahu scat itu, agama tersebut terasa lebih menarik untuk ditelusuri. Ajaran yang dikandungnya terasa seperti air mengalir, dan lebih banyak memberi saya ketenangan batin.

Hijrah Ke Jakarta
Setelah lulus SMU (1989), kegiatan saya sebagai penyanyi semakin meningkat, karena lewat menyanyi segala kebutuhan saya lebih terjamin. Tawaran untuk show dalam dan luar kota, selalu saya terima dengan tangan terbuka, terlebih karena saya sudah tidak terikat lagi dengan waktu belajar.

Ketika datang tawaran untuk show di Jakarta bersama artis senior lainnya dari kota Medan, saya tidak berpikir dua kali. Segera saya siapkan segalanva untuk berangkat ke Jakarta, karena selain untuk urusan menyanyi, di Jakarta pun saya ingin bertemu dengan paman dan tante yang sangat sayang pada saya walaupun mereka tahu saya sudah memeluk agama Budha.

Paman dan tante saya sangat taat menganut agama Katolik apalagi paman adalah seorang penginjil. Namun, mereka tetap sayang kepada saya. Barangkali yang menjadi pertimbangan mereka karena saya adalah anak yang sudah tidak beribu dan berayah, yang patut dikasihani. Entahlah.

Singkatnya, saat ingin kembali ke Medan inilah, saya mengalami peristiwa adzan “ghaib” di dalam pesawat. Benar-benar tidak pernah saya duga sebelumnya. Bahkan malam hari sebelum peristiwa itu pun, saya tidak bermimpi apa-apa. 

Dan anehnya, saya yang selama ini belum mengenal Islam, kecuali sepintas lalu, tapi suara adzan itu entah mengapa terasa tidak asing lagi di telinga saya. Saya menikmatinya dengan sungguh-sungguh, hingga dalam benak saya terbetik kata, “Mengapa tidak sejak dulu saya masuk Islam. Ientunva, suara adzan seperti ini akan senantiasa saya dengar.”

Setelah suara adzan dalam pesawat itu berlalu, saya yang tengah dilanda bingung itu tidak kuasa untuk menanvakan perihal pendengaran saya itu kepada siapa saja di pesawat itu yang mempunyai ciri-ciri seorang muslim atau muslimah. Kebetulan, penumpang yang ada di samping saya adalah seorang bapak berusia 60-an, yang mengenakan topi haji berwarna putih.

Pikir saya, ia pasti seorang muslim. Tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung menyapanya, memperkenalkan diri, dan menceritakan sedikit mengenai keajaiban yang barn saja saya alami. Orang tua berperawakan sedikit gemuk, yang sebagian rambutnya sudah berwarna putih itu, bernama Pak Rahmat. Ia ternyata benar-benar seorang muslim yang baik, karena dengan segala keramahan dan kebijakannya is menanggapi segala cerita saya.

Tanpa sadar, selama perjalanan pulang Jakarta-Medan tersebut, saya menceritakan keseluruhan riwayat hidup saya padanya. Beliau ternyata sangat penyayang dan sangat memperhatikan setiap orang yang benar-benar tertarik pada Islam.

Dikatakannya bahwa dalam rumahnya, ada juga beberapa muallaf yang untuk sementara, selama belum bisa mandiri baik lahir maupun batin, tinggal di rumahnya. “Seandainya kamu ingin masuk Islam dan perlu bimbingan, datanglah pada kami. Bapak dan ibu, anggaplah seperti orang tuamu sendiri. Orang tuamu yang seiman,” ujarnya lembut.

Mendengar penuturan Pak Rahmat, saya tidak bisa tidak, jadi menangis tersedu menahan haru. Betapa tidak, saya yang sejak usia muda ditinggal ayah dan ibu, tiba-tiba mendapat seorang ayah angkat, dalam sebuah pesawat, dan di perjalanan pulang yang singkat. Dan, semua itu membuat saya semakin yakinbahwa kasih dan sayang Allah SWT pada saya semakin deras mengalir. “Aku akan mengabdi pada-Nya dalam agama yang diridhai-Nya,” ujar saya membatin.

Masuk Islam
Setelah sampai di Medan, tidak berapa lama kemudian saya datang mengunjungi ayah angkat saya, Pak Rahmat. Benar saja, ia dan keluarganya menyambut saya dengan keceriaannya yang tulus. Pada Pak Rahmat yang biasa saya panggil Bapak, saya utarakan niat saya yang sudah mantap untuk masuk Islam. Maka tidak berapa lama kemudian tepatnva pada tanggal 17 September 1991, saya resmi masuk Islam. Setelah menjadi muslimah sava berganti nama menjadi Yenni Farida.

Sejak menjadi muslimah, otomatis segala aktivitas menyanyi saya hentikan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya bekerja kembali sebagai tenaga pembukuan di sebuah perusahaan kecil. Selama setengah tahun saya tinggal dengan keluarga Pak Rahmat. la tidak pemah menyinggung perasaan saya. Sikapnya dan keluarganya, semua sangat baik pada saya. Tapi saya sadar, saya tidak bisa selamanya menyusahkan mereka. Saya mulai berpikir untuk hidup mandiri, dan tidak bergantung pada Bapak lagi.

Akhirnya saya putuskan untuk pergi merantau mencari pekerjaan di Jakarta. Niat ini semula ditentang oleh Bapak, dengan alasan Jakarta kota besar yang tidak selamanya ramah. la takut saya akan terjebak atau tanggelam oleh derasnya arus kota Jakarta.

Namun, setelah saya yakinkan padanya bahwa saya bisa menjaga diri, terlebih setelah saya katakan bahwa saya tinggal dengan om dan tante saya di Jakarta, mereka lumayan tenang melepaskan kepergian saya. Namun, ada satu pesan Bapak yang tidak akan pernah saya lupakan dan selalu saya laksanakan hingga detik ini, yaitu agar saya jangan sampai lupa untuk melaksana kan shalat lima waktu maupun shalat sunat lainnya. “Itu yang tetap menjadikanmu sebagai muslimah, Anakku,” ujarnya pada saya.

Menikah
Di Jakarta, saya cuma sebentar tinggal bersama tante, karena setelah mendapatkan pekerjaan, saya segera pindah ke tempat kos di jalan Latumeten, Jakarta Barat. Kepindahan saya ke tempat kos itu, ternyata punya arti tersendiri. Di sanalah saya bertemu dengan seorang pemuda bersama Muhammad Majid, asal Kebumen, Jawa Tengah yang kelak menjadi suami saya.

Sebagai perantau dan sekaligus “pendatang baru” dalam Islam, saya membutuhkan seorang teman yang bisa membimbing saya untuk menjadi seorang muslimah yang baik. Alhamdulillah, figur pembimbing tersebut ada pada diri Muhammad Majid. Kami menjadi semakin Akrab, karena saya sering berkonsultasi masalah-masalah keagamaan dengannya. Tanpa kami sadari, kami jadi saling membutuhkan. Benih cinta mulai bersemi di antara kami berdua.

Singkat cerita, tak lama kemudian, pada tanggal 29 Januari 1992, saya dan dia resmi menikah. Dan sejak saat itu, kebahagiaan saya menjadi Iengkap dengan hadirnya seorang pendamping yang saleh, yang akan selalu ada di sisi saya. Meski kami cuma hidup dari penghasilan suami saya yang guru agama, namun hidup ini saya jalani dengan penuh keikhlasan.


Sumber : Kisah Mualaf
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic

Minggu, 27 Oktober 2013

Mualaf : Ratna Novita Menyadari Keinginannya Menjadi Seorang Muslimah !

Ratna Novita
Mutiara Public -- Meski dibesarkan dalam keluarga Budha, sejak kecil, orang tua Ratna Novita, 32 tahun, tidak pernah memaksa atau melarangnya untuk menganut agama tertentu. "Intinya kami sendiri yang mencari agama itu," Tutur Ratna. 

Ayah dan ibunya membebaskan dalam urusan satu itu. Tak heran, bila menyimak kisahnya, Ratna yang tertarik belajar Islam sempat pula beribadah di Gereja.

Perkenalan serius dengan Islam dimulai ketika duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarnya Ratna yang melihat teman-temannya sebagian besar beragama Islam, awalnya ikut-ikutan memilih pelajaran agama Islam. Maklum, saat itu sekolah umum hanya memberikan dua pilihan pelajaran agama, Islam dan Kristen. 

Sejak itu, Ratna mulai mempelajari segala hal tentang Islam, mulai kisah para nabi, bacaan Shalat, surat-surat pendek serta sejarah Islam. Lambat laun ketertarikannya dengan Islam sangat besar. 

“Lingkungan sekitar yang mayoritas Muslim membuat saya tertarik dengan Islam, maka dari sana lah saya giat mempelajari segala hal mengenai Islam” Ucap Ratna 

Ratna tak hanya belajar di sekolah. Selepas maghrib bersama teman-temannya di kampung halaman, ia mengikuti pelajaran mengaji Al Qur'an. 

Rutinitas itu ia lakoni selama enam tahun. Ratna yang keturunan Tionghoa dan tercatat beragama Budha dalam data kependudukan sipil, mengaku merasa menjadi Muslim meski belum pernah mengikrarkan syahadat. 

Tapi ketika SMP, ritual Ratna mulai berganti. Ketika ia tinggal dengan kakaknya yang menganut Katholik, di sekolah ia beralih mempelajari agama tersebut. Tiap minggu ia juga ikut pergi ke gereja bersama sang kakak. 

“Saat SMP saya ikut kakak, jadi saya mengikuti agama yang ia anut. Tetapi saat saya menginjakkan kaki ke gereja saya tidak merasakan kenyamanan di sana," Kata dia. 

"Saat itu saya pikir karena baru pertama kali dan masih canggung. Tetapi lama kelamaan rasa itu semakin tak bisa dipungkiri. Saya benar-benar tidak tenang di gereja” tutur anak ke-6 dari 8 bersaudara itu. 

Ketidaknyamanan itu membuat Ratna berpikir ulang. Ia menyadari Katholik bukan lah agama yang ia cari selama ini. Islam-lah yang sesungguhnya ia butuhkan. Kesadaran itu mendorong Ratna untuk kembali pada Islam. 

Ia pun membulatkan tekad dengan mengucap dua kalimat syahadat di salah satu masjid di kampungnya, Jawa Tengah. “Saat SD mungkin dianggap karena ikut-ikutan teman, tetapi saya merasakan hal yang lebih dari sekedar ikut-ikutan," Ucapnya. 

Setelah menyandang status sebagai seorang Muslim, Ratna tak hanya menjadikan Islam sebagai agama sesuai catatan sipil di KTP. Ia juga terus belajar menegenai Islam dan mencoba mengaplikasikan semua ajaran agama yang ia peroleh sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari. 

Saat menikah, Ratna memutuskan untuk menutup auratnya sesuai dengan perintah agama. Selama pernikahannya Ratna dikaruniai satu orang anak. 

Meskipun saat ini ia telah berpisah dengan sang suami, namun, itu tak membuat ke-Islamannya menurun. “Awalnya saya merasa sendiri, karena saya pikir sangat jarang keturunan Cina yang menjadi seorang muslim," tuturnya. 

Akhirnya ia mencoba mencari di internet mengenai keberadaan komunitas Muslim Cina dan mendapatkan satu komunitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) yang berkantor di Jakarta Timur. "Kini saya mengikuti pengajian di Masjid Lautze, Pasar Baru,” tutur Ratna 

“Islam adalah agama yang Damai, banyak hal-hal yang diluar akal manusia” ujar Ratna. ”Saya mengatakan demikian karena saya telah merasakannya," Kata dia. 

Beberapa perilaku keseharian itu menurut Ratna, seperti menyisihkan uang untuk bersedekah setiap hari. Ia merasakan manfaat besar dari bersedekah, yakni pertolongan Allah yang tidak diduga-duga ketika ia tengah mengalami kesulitan. 

"Intinya adalah kita harus yakin akan kebesaran Allah, karena setiap prilaku kita Allah akan membalasnya, jika kita menjadi orang baik maka Allah akan senantiasa member kebaikan pada kita” Kata dia.

Ratna kini memiliki keinginan besar untuk beribadah Haji. Ia juga berharap dapat mendirikan sebuah yayasan sosial untuk membantu orang-orang yang tidak mampu terutama dalam bidang pendidikan. “Dikampung saya masih banyak orang-orang kurang mampu, jika saya bisa membantu mereka dalam hal pendidikan, alangkah bahagianya mereka.”



Sumber : Muallaf Center Online
Redaktur : Zainul Hakim
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic


Kisah Malik Bin Dinar : Taubatnya Sang Manusia Zalim !

Malik bin Dinar Rohimahullah menuturkan : Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah. Aku sangat mencintai Fathimah.

Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. 

Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.

Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadaku: "Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya." Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.

Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat. Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. 

Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan. Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: "Mari menghadap al-Jabbar!"

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. 

Akupun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun berkata: "Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!" Dia menjawab: "Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!"

Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: "Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?" Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. 

Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: "Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku." Maka dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata: "Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!"

Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: "Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!"

Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. 

Maka diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku: "Wahai ayah, "belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah."

Maka kukatakan: "Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu."

Dia berkata: "Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu."

Dia Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: "Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah." Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia Rohimahullah berkata: Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang sama:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah."

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi’in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: "Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka."

Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: "Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari.

Dia berfirman kepadamu: "Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil."

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rizki taubat kepada kita. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas.

======================================================================================================================

"Ya Allah Ampunilah Dosa-Dosaku" Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. 

Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.

Amin...!

Sumber : Kisah Islam (Abatasa)
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic.


Kisah Inspiratif : Syeikh Yusuf Estes Menemukan Agama Sesungguhnya !

Awalnya ia bekerja sebagai musisi di gereja sekaligus penginjil. Namun kini, ia berkeliling dunia dan telah banyak mengislamkan orang. Di bawah ini adalah penuturannya. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim. Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu. Namun akhirnya ia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta mertuanya.
Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV, Huda TV, demikian pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.

Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya, ia menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara sejak tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di situs www.islamtomorrow.com.

Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya dimanapun mereka berada.

Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan dengan hal berbau Arab.

Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui e-mail kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam. Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga Allah ridha.

Keluarga Kristen taat 
Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.

Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha, Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali, yakni Islam.

Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “Estes Music Studios.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.

Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.

Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan:”Apakah Tuhan yang menulis Bibel?” Biasanya jawabannya adalah: “Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.” Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan,”Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.

Mencari Tuhan 
Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”

Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun kata “Trinitas.”

Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” tersebut. Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.

Jumpa pria Mesir 
Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu seorang Muslim.

Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no way! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.

Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam “aturan” khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan “Yesus Tuhan Kami.” Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.

Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.

Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.

Interogasi 
Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai “menginterogasi” pria Mesir tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawabannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya. Fantastik!

Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin?

Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.

Menjadi mitra bisnis 

Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.

Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.

Satu ketika salah seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat.

Pria di kursi roda mencari Tuhan 
Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.

Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; “Sebenarnya saya dulu seorang pendeta.”

“Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?

Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.

Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?

Sang pendeta masuk Islam! 
Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian apapun?

Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?

Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.

Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.

Sekeluarga masuk Islam 
Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.

Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.

Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang punya motto terkenal, " where we're always open 24 hours a day and always plenty of free parking." (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis).

Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam.

Amin Ya Rabbal'alamin....!


Disadur Dari Berbagai Sumber.
Dipublikasikan Kembali Oleh : MutiaraPublic
 
Copyright © 2014 MutiaraPublic Share on Blogger Template Free Download .